Laporan: MUHAMMAD HAMIM (Sampit)

SEBUAH pabrik oli oplosan yang biasa memasok bengkel sepeda motor dan  dirintis sejak 15 tahun silam, digrebek Polsek Kawasan Pelabuhan Mentaya (KPM) bersama Polres Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah (Kaltim), Senin (29/2/2016). Dari pabrik rumahan yang berlokasi di Jalan Borneo Timur, Keluarahan Ketapang, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, itu polisi menyita 900 botol kemasan oli palsu dan 29 drum bahan oplosan.

Sayang, sang bos berhasil kabur. "Pabrik oli oplosan tersebut merupakan milik IR (40) dan IW (30), yang masih dalam pengejaran. Mereka melakukannya sejak 15 tahun lalu, sempat berhenti beberapa tahun, dan dalam lima tahun terakhir beroperasi lagi," kata Kapolres Kotim, AKBP Hendra Wirawan, saat datang lokasi pabrik oli oplosan.

Polisi juga menyita satu mesin cetak, sebuah setrika yang digunakan untuk melekatkan merek ke botol, bubuk pewarna, mesin printer, mobil pikap, ribuan tutup botol, dan 950 buah botol bekas. "Pelaku mengoplos oli merek Vega dengan pewarna makanan, agar bentuk dan warna oli yang sudah dikemas ke dalam botol berbagai merek mirip dengan yang asli," ungkap Hendra.

<b>Berbahan oli murah<b>
Oli yang dioplos diberi merek Yamalub, Top One, Yamaha, dan Ultratek. Padahal, berisi oli Vega yang harganya lebih murah lalu dicampur dengan pewarna untuk menyerupai aslinya. Hasilnya dipasarkan ke sejumlah bengkel sepeda motor di Kotim. "Keuntungannya berkisar Rp5 ribu hingga Rp10 ribu per botol," ungkap Hendra.

Terungkapnya tempat pengoplosan oli palsu itu bermula ketika Polsek KPM melakukan pemeriksaan angkutan yang turun dari kapal Kirana III dari Semarang, Jawa Tengah, di Pelabuhan Sampit, Kotim. Dalam sebuah mobil boks ditemukan ratusan botol oli bekas, stiker merek, dan ratusan tutup botol.

Polisi langsung curiga dan menahan mobil tersebut. Penyelidikan menuntun polisi ke sebuah rumah yang berada di Jalan Borneo Timur yang menjadi pabrik pengoplosan oleh tadi.

Ketua RT 33/RW 02 Kelurahan Ketapang, Rusli, mengeku mengenal IR dan IW sebagai penjual oli. “Sudah lama mereka jualan oli, bahkan sekitar 15 tahun yang lalu, namun kami tidak mengetahui bahwa itu oli oplosan,” katanya. (MH/B-1)