Warga Kecamatan Pangkalan Banteng, Kabupaten Kotawaringin Barat masih takut menggunakan kompor gas. Dari ribuan paket gas Elpiji 3 kg dari pemerintah, sebagian tidak digunakan warga. Warga memilih bertahan menggunakan minyak tanah, meskipun harganya selangit dan ketersediaannya sudah sangat sulit.


Ratna, warga Desa Karang Mulya, Kecamatan Pangkalan Banteng, mengaku tidak berani menggunakan kompor gas gratis dari pemerintah. Kualitas kompor, selang serta regulator yang dinilai masyarakat kurang bagus menjadi momok menakutkan ketika mau digunakan. 


"Saya pakai kompor gas, tapi kompor selang dan regulatornya saya beli lagi di toko. Yang saya pakai cuman tabung gasnya saja," kata dia, di kediamannya di Desa Karang Mulya, Selasa (1/3/2016).


Warga lainnya, Maryani, juga enggan menggunakan kompor gas elpiji dari pemerintah. Malah ia masih bertahan menggunakan kompor minyak tanah untuk kebutuhan memasak di dapurnya. "Gak berani pakai gas takut meledak seperti kejadian yang di televisi. Apalagi komoornya tipis, regulatornya juga kelihatan cepat rusak," kata dia.


Maryani sampai saat ini masih menggunakan kompor minyak tanah, meski minyak tanah bersubsidi sudah ditarik peredarannya.


"Saya beli minyak tanah titip ke tetengga yang sering ke Pangkalan Bun, harga satu liternya Rp12 ribu. Mau gimana lagi. Kalau dikasih lagi kompor yang bagus saya mau pakai," terang dia.


Bahkan kompor, tabung dan selang yang berada satu paket belum ia buka sama sekali. Nampak selang dan regulator yang masih terbungkus kemasan plastik masih utuh belum ia buka.


Kasi Kesra Kecamatan Pangkalan Banteng, Yusius mengakui jika masyarakat Pangkalan Banteng rata-rata masih menggunakan kompor minyak tanah untuk keperluan memasak, paket kompor elpiji kebanyakan mereka simpan di rumahnya, sebagian ada yang menggunakan gas elpiji, Namun mereka terpaksa membeli peralatan kompor, selang dan regulator yang kualitasnya jauh lebih baik di pasaran. 


"Memang kondisinya seperti ini, perlu sosialisasi lebih intens. Kebanyakan masyarakat masih dihantui rasa takut, mereka berpikir lebih baik mencari alternatif lain dari pada menanggung risiko lebih parah," ujar dia.


Meski di Kecamatan Pangkalan Banteng sejauh ini belum ada kejadian tabung kompor gas yang meledak hingga menyebabkan korban jiwa, namun masyarakatnya merasa was was jika tetap memaksakan menggunakan paket kompor gas gratis itu. (CECEP HERDI/m)