HASIL tangkapan nelayan di laut Kumai mengalami penurunan yang signifikan. Sebabnya, aktifitas penangkapan ikan masih banyak yang menggunakan peralatan yang tidak ramah lingkungan (trawl mini, lampara dasar). 


Penurunan sumberdaya perikanan itu sudah dirasakan nelayan sejak beberapa tahun terakhir. Dari 50 kilogram ikan yang biasa mereka bawa pulang saban harinya saat ini paling banyak 20 kilogram ikan dan udang.


Hal ini diungkapkan oleh Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA), Kabupaten Kotawaringin Barat, Syahrian. Menurutnya, data yang ia terima dari pemerintahan desa Kubu, Kecamatan Kumai, jumlah nelayan yang menggunakan trawl masih tinggi mencapai 80 nelayan,

Trammel nett (jaring rentang), 50 nelayan dan yang menggunakan pukat sungkur (pukat yang dibentuk memanjang dan di dorong) berjumlah 50 nelayan.


“Jaring trawl masih dominan digunakan oleh nelayan, hal ini tentu saja mengakibatkan penurunan hasil tangkapan nelayan, dulunya sumberdaya perikanan melimpah terutama udang dan ikan,” kata Syahrian, Selasa (1/3/2016).


 Sementara itu, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kobar, Rusliansyah menekankan, DKP mengakui telah terjadi penurunan sumberdaya perikanan di laut Kumai. Hal ini bisa dilihat dari jumlah hasil tangkapan nelayan yang cenderung menurun. (KK/B-7)