KABUPATEN Kotawaringin Barat (Kobar) menjadi salah satu daerah yang dilintasi gerhana matahari total (GMT). Namun, tak seperti daerah lainnya, geliat promosi pariwisata memanfaatkan momentum fenomena alam langka ini tak tampak di Bumi Marunting Batu Aji itu. 


Menurut Ahmad Yani, salah seorang pelaku bisnis pariwisata, pihaknya sudah mengupayakan mencari lokasi yang tepat untuk mengemas paket wisata di Kobar. Namun, karena topografi Pangkalan Bun dan sekitarnya tergolong rendah, spot terbaik untuk melihat fenomena GMT, sulit didapat.


“Sejak diumumkan GMT juga melintasi Kobar, saya bersama beberapa teman sudah melakukan survei untuk mencarai lokasi pengamatan yang bagus. Tetapi, kami masih belum menemukan lokasi yang bagus,” ujar Yani di Pangkalan Bun, Selasa (1/3/2016).


Menurutnya, lokasi yang bagus adalah saat matahari bisa terlihat jelas, tanpa terhalang bangunan atau pepohonan. “GMT di Kobar dimulai sekitar pukul 06.22 WIB hingga pukul 08.42 WIB, dalam kisaran waktu tersebut matahari belum terlalu tinggi. Sehingga pandangan seringkali terhalang bangunan,” jelasnya.


Namun, Yani menegaskan, pihaknya siap memandu para wisatawan menuju Kabupaten Lamandau, yang mengemas paket wisata budaya, menyambut fenomena langka ini. “Karena Pemkab Lamandau telah menentukan lokasi pengamatan GMT yaitu Bundaran Rusa. Artinya lokasi tersebut dianggap bagus dan tidak terhalang bangunan sebagai lokasi pengamatan GMT,” ujarnya.


Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Pangkalan Bun Lukman Soleh, pun tak bisa memberikan rekomendasi lokasi yang tepat untuk menikmati GMT di Kobar. Namun, lanjutnya, pihaknya bisa memberikan koordinat untuk mengarahkan kamera atau teropong bagi pengamat.


“Selama ada lokasi bebas ke arah timur azimut 94, maka GMT bisa diamati dengan jelas. Azimut 94 yaitu 94 derajat dari utara arah timur, 4 derajat ke selatan. Bila arah pandangan tersebut tidak ada penghalang, maka tempat tersebut merupaka spot terbaik untuk pengamatan GMT,” pungkasnya. 

(YD/B-10)