Pemerintah menurunkan tarif listrik per 1 Maret 2016, setelah sebelumnya terjadi pada Januari lalu. Hal serupa juga terjadi pada bahan bakar minyak (BBM). Untuk Kalimantan Tengah (Kalteng), hal ini akan dikaji agar berdampak pada penurunan harga sejumlah komoditas.
“Logika sederhananya, kalau tarif listrik turun harusnya ada komoditi yang turun juga,” Asisten II Sekretariat Daerah (Setda) Kalimantan Tengah (Kalteng), Syahrin Daulay, saat konferensi pers Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID), di Palangka Raya, Selasa (2/3/2015).
TPID Kalteng mencoba realistis sehingga jika kajian telah dikeluarkan, akan mengimbau apa saja yang bisa diturunkan. “Tentunya produksi yang menggunakan listrik harganya harus mengalami penurunan. Seberapa pun, harus ada yang turun,” kata Syahrin.
Hal itu dibenarkan Marcus J Erwinta, kepala Bidang Minyak dan Gas Dinas Pertambangan dan Energi (Distamben) Kalteng. Turunnya harga minyak dunia, dari 35 dolar AS menjadi 27 dolar AS per barel, menurut dia, membuat harga BBM nonsubsidi turun lagi per 1 Maret ini.
‘’Pertamax turun Rp200, Dex turun Rp200, dan Pertalite turun Rp100. Tarif listrik untuk daya 1.300 watt ke atas turun sebesar Rp100/kwh pada Januari, dan Maret ini turun lagi Rp40-Rp60/kwh. Sejak 5 Januari juga gas elpiji 12 kilogram mengalami penurunan harga sebesar 5.000/tabung,” ungkap Marcus.
Terjadi deflasi
Di sisi lain, pada Februari lalu terjadi deflasi di dua kabupaten di Kalteng, yaitu Palangka Raya (0,41%) dan Sampit (0,44%). Deflasi di Palangka Raya adalah harga daging ayam ras (0,19%), listrik (0,09%), bawang merah (0,09%), dan sebagainya. Sementara untuk Sampit, adalah bawang merah (0,22%), tomat sayur (0,10%), ayam ras (0,09%), dan lainnya.
Meski begitu, menurut Syahrin Daulay, TPID tidak akan terlena. “Kita tetap kaji apa dampaknya ke depan. Kita kan juga tidak ingin deflasi terus atau inflasi terus. Kita perlu mengendalikan ini,” katanya.
Pihaknya juga menyurati TPID Kabupaten/kota dan SKPD se-Kalteng untuk kita membuat kompilasi seluruh rencana aksi. Kemudian membuat rencana tiga bulanan, meskipun sebenarnya inflasi dihitung tahunan. ‘’April nanti, TPID akan melakukan evaluasi untuk memantau inflasi selama tahunan,” tandas Syahrin.
(Testi Priscilla/ B-1)








