PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Menteri Pertanian Republik Indonesia, Syahrul Yasin Limpo mengakui bahwa peremajaan kebun sawit rakyat tidaklah mudah. Ada berbagai tantangan yang dihadapi pekebun sawit. Maka dari itu menurutnya semua elemen patut bekerja keras dan berkolaborasi secara aktif di program peremajaan sawit rakyat atau PSR ini.

"Sejak awal rapat koordinasi ini telah banyak diupayakan baik pemerintah maupun stakeholder lainnya guna mendorong program PSR berjalan lebih cepat lagi dan lebih baik lagi," kata Yasin dalam rilis yang dikirimkan Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit atau BPDPKS kepada Borneonews pada Selasa, 28 Februari 2023.

Hal ini disampaikan Mentan saat membuka kegiatan rapat koordinasi sawit nasional dengan bertajuk Menjaga Resiliensi Perkebunan Indonesia 2023 dan Akselerasi Peremajaan Sawit Rakyat, Senin.

Sementara itu, Dirjen Perkebunan, Andi Nur Alam Syah menambahkan bahwa tujuan rakonas ini untuk membangun sinergi antara pemerintah pusat dengan pemerintah daerah, perusahaan perkebunan kelapa sawit, asosiasi pekebun kelapa sawit, serta perusahaan perkebunan kelapa sawit agar secara konkret dan konsisten untuk mengakselerasi pencapaian program PSR. Selanjutnya untuk mendapat komitmen sekaligus menjaring masukan dalam merumuskan langkah-langkah yang harus dijalankan. 

"Pada tahun 2023 ini, Kementerian Pertanian melalui Direktorat Jenderal Perkebunan, telah mendistribusikan target program PSR di 20 Provinsi dan 112 Kabupaten/Kota yang berpotensi mengajukan usulan program PSR melalui pengusulan Dinas daerah Kabupaten/Kota dan Dinas daerah Provinsi," bebernya.

--page

Sedangkan distribusi target, Andi menyebut untuk pengusulan kemitraan dengan Perusahaan Perkebunan berada di 11 Provinsi dan 24 Kabupaten dan Kota. (TESTI PRISCILLA)