SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit - Pengamat Kebijakan Publik Bambang Haryo Soekartono mengkritik pernyataan Menteri Keuangan Sri Mulyani yang menyebut dunia dalam keadaan krisis ekonomi dan pangan serta energi di tahun 2023 ini. Bahkan beberapa pejabat lainnya mengatakan bahwa sejumlah negara akan mengalami kesulitan dan menyebutkan tahun ini merupakan tahun yang tidak menentu.

Pernyataan tersebut dianggapnya tidak benar dan tidak berdasar, sehingga berpotensi menjadi pemicu memanasnya hubungan diplomasi Indonesia dengan negara lain yang seolah-olah terjadi keterpurukan dan bahkan ada yang mengatakan kebangkrutan sejumlah negara.

"Kondisi ekonomi di tahun 2022 di negara negara baik Asia, Eropa, maupun Amerika bahkan lebih baik daripada kondisi ekonomi pada saat 2019 sebelum pandemi terjadi dan prediksi tahun 2023 akan jauh lebih baik dari tahun 2022," kata Bambang Haryo.

Sebagai contoh, kata pemilik sapaan akrab BHS ini, pertumbuhan ekonomi negara negara di Asia Tenggara di pada 2022 seperti Vietnam pertumbuhan ekonominya sebesar 8,02% naik dibanding 2019 sebesar 7,02%.

Kemudian, di Philipina, pertumbuhan ekonominya di tahun 2022 sebesar 7,6% naik dibanding 2019 sebesar 6,12%, juga Malaysia pertumbuhan ekonominya di tahun 2022 sebesar 8,7% naik dari tahun 2019 yang hanya 4,41% dan bisa dikatakan pertumbuhan ekonomi di Malaysia tahun 2022 adalah yang tertinggi selama kurun waktu 22 tahun sejak 2000.

--page

Negara-negara di Asia Tenggara mempunyai target akan terjadi kenaikan pertumbuhan ekonomi di tahun 2023. Tetapi untuk Indonesia pertumbuhan ekonomi di tahun 2022 sebesar 5,91% naik dari 2019 sebesar 5,02%, tetapi prediksi di tahun 2023 turun menjadi 4,9%

"Ini terlihat ekonomi dibanyak negara di dunia mengalami kenaikan yang signifikan pasca covid dan bahkan negara di Eropa yaitu Inggris sebagai negara maju saja bisa tumbuh sangat besar ditahun 2022 sebesar 4,1%, naik dari tahun 2019 sebesar 1,6%," sebut Bambang.

Menurunkan Kepercayaan Publik

Wakil Ketua MTI Pusat ini juga mempertanyakan seringnya para pejabat negara memberikan informasi yang keliru dan terkesan menakut nakuti masyarakat. Pasalnya, hal tersebut justru akan menimbulkan spekulasi dan menurunkan kepercayaan publik terhadap lembaga pemerintah.

"Saya tidak tahu, motif pejabat negara termasuk Menteri Keuangan yang memberikan keterangan seperti itu tentang kekhawatiran ekonomi dunia akan terpuruk di tahun 2023 dan menuju krisis yang disampaikan kepada rakyat melalui media massa. Jangan jangan hanya di Indonesia saja yang mengalami krisis ekonomi akibat salah kebijakan, " tanya Bambang.

--page

Untuk membuktikan ekonomi dunia saat ini masih sangat baik, Bambang menyempatkan waktu untuk berkunjung ke Inggris, Jepang dan Malaysia yang pernah diisukan oleh beberapa pejabat negara mengalami kebangkrutan, tetapi ternyata ekonomi mereka masih sangat baik, daya beli masyarakat juga masih sangat tinggi. Begitu juga di Vietnam, Filiphina dan China, mereka tidak mengalami kesulitan ekonomi.

"Beberapa negara memang mengalami kesulitan energi karena terputusnya supply gas akibat perang. Seperti halnya Jerman, Inggris, Jepang dan beberapa negara Eropa lainnya. Tetapi mereka berupaya menghidupkan kembali tambang batubara nya untuk digunakan sebagai energi di negaranya dan bahkan beberapa negara menghidupkan kembali reaktor nuklirnya seperti Jerman dan Jepang agar harga energi listrik menjadi murah kembali," Kata Bambang.

Dirinyapun berpendapat bahwa tidak benar negara seluruh dunia terjadi krisis ekonomi dan krisis pangan di tahun 2022 dan 2023, bahkan negara negara di dunia tersebut mempunyai target peningkatan produksi pangan terutama China, Vietnam. (MUHAMMAD HAMIM)