MASYARAKAT Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) khusunya yang tinggal di Kota Sampit, harus waspada saat menerima uang. Periksa secara teliti terlebih dahulu, karena tidak menutup kemungkinan uang tersebut palsu alias upal.
Peredaran uang palsu tersebut bukan sekedar isu belaka, karena sejumlah warga di Kota Sampit sudah menemukan upal tersebut dengan nominal Rp100 ribu.
Seperti yang dikatakan Bahri, salah seorang pekerja swasta di Kota Sampit. Di mana pada Rabu (2/3/2016) dirinya menemukan uang palsu Rp100 saat melakukan tagihan terhadap salah satu konsumennya.
“Awalnya saya tidak tahu uang tersebut palsu, jadi saya terima saja uangnya,” ujar Bahri, Rabu (2/3/2016).
Upal tersebut bermula ketika dia mengambil uang tagihan kepada beberapa konsumen. Karena tidak ada curiga atau kurang teliti, di antara konsumen tersebut. Rupanya ada yang membayar menggunakan upal.
Namun dirinya tidak mengetahui hal itu. Sehingga dia langsung pergi saja. Setelah uang konsumen terkumpul, dia langsung pergi ke bank untuk menyetorkan. Di bank tersebutlah, Bahri baru mengetahui bahwa uang yang ia terima itu palsu. Sehingga dengan terpaksa ia menggantinya dengan uang pribadinya.
Uang palsu
Hal yang sama juga diungkapkan Angga, warga Jalan Muchran Ali, Kecamatan Baamang, Kotim. Beberapa hari yang lalu saat dirinya hendak membayar belanjaan di salah satu swalayan, uang Rp100 ribu miliknya dikembalikan. “Kata kasir uang itu palsu, beruntung saat itu saya bawa uang lebih, sehingga tidak malu,” ungkap Angga.
Beredarnya uang palsu tersebut harus menjadi perhatian bagi masyarakat. Warga harus teliti saat menerima uang, baik itu kembalian dari warung maupun uang tagihan dari sejumlah orang. Karena tidak menutup kemungkinan itu adalah upal.
Upal tersebut jika dilihat dari segi fisik memang hampir sama dengan uang asli. Hanya saja bentuk uangnya agak sedikit tebal dan lebih kasat jika dibanding yang asli. Sehingga warga harus teliti, dan menerapkan 3D, dilihat, diraba, dan diterawang. (MH/B-7)


