Sekolah swasta setingkat menengah dan atas (SMP, MTS, SMA) di Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar) terancam tutup

karena kekurangan siswa. Dari tahun ke tahun jumlah siswa baru yang mendaftar semakin menurun. Sekolah swasta ini kalah bersaing dengan sekolah negeri unggulan. 


Dari data sekolah penerima dana bantuan operasional sekolah (BOS), antara sekolah negeri dan swasta terjadi ketimpangan yang luar biasa. Seperti SMA Negeri 1 Pangkalan Bun, jumlah siswa keseluruhan sekolah unggulan ini mencapai 668 siswa. Bandingkan dengan SMA PGRI yang jumlah siswanya hanya 50 orang. Itu pun sudah terbagi menjadi lima rombongan belajar. 


Perbandingan lain, SMA Negeri 2 Pangkalan Bun, total jumlah siswanya mencapai 615 siswa. Kalau dibandingkan dengan SMA Abdi yang hanya 61 siswa tentu sangat senjang.


Menurut Kepala Sekolah SMA PGRI Eyudia Somu, ini akibat tidak konsistennya penerapan aturan saat penerimaan siswa baru, seperti pembatasan jumlah kuota dan lokal (Kelas). Jika sejumlah sekolah unggulan komitmen pada pembatasan tersebut maka, sekolah swasta non unggulan akan kebagian siswa. 


Ia mencontohkan, kuota penerimaan siswa per kelas, misal maksimal 40 siswa, dan jatah kelas enam ruang kelas. Tetapi karena membludaknya peminat, mereka bisa menambah jumlah kuota dan ruang kelas. 


Padahal sebelumnya Disdikpora akan memberikan sanksi kepada sekolah yang melanggar aturan tersebut. Tetapi tetap saja praktek ini terus berjalan.


"Artinya, kami bagaimanapun keadaannya atau bahkan tidak ada siswa yang masuk pada saat penerimaan siswa baru, proses belajar mengajar tetap berjalan walau dengan tertatih-tatih,” keluh Somu, Kamis (3/3/2016). (KOKO SULISTYO/m)