Penanganan pasca panen jagung di Desa Simpang Berambai, Kecamatan Pangkalan Banteng, Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar) oleh para petani masih minim perhatian. Kritik ini datang dari Kasubdit Pasca Panen Tanaman Pangan, Dirjen Pengolahan dan Pemasaran Hasil Tanaman Pangan Kementerian Pertanian Suhartini. 


Pasalnya, kata dia, jagung yang sudah dipipil dan dilakukan proses pengeringan melalui penjemuran di bawah sinar matahari ditebar di atas permukaan tanah. Padahal, menurutnya cara seperti itu mempengaruhi pada penurunan kualitas jagung.


"Perlu bimbingan dan penyuluhan lebih intens untuk para petani ini. Cara menjemur jagung yang sudah dipipil itu, menurut hemat saya, tidak bagus jika ditebar di atas permukaan tanah," kata Suhartini usai menghadiri acara panen raya perdana jagung di Desa Simpang Berambai, Kecamatan Pangkalan Banteng, Kamis (3/3/2016).


Suhartini menjelaskan, yang benar adalah, jagung yang sudah dipipil minimal ditebar di atas permukaan tanah dengan dilapisi alas supaya tidak jagung tidak tercampur dengan tanah dan butiran pasir. "Idealnya bisa juga ditebar di atas lantai bukan langsung di atas tanah," katanya.


Ia menilai, produksi jagung panen di Simpang Berambai ini sudah cukup baik kualitasnya. Bahkan jika dilihat dari kuantitasnya juga cukup baik. Produksi panen dalam satu hektare lahan jagung tersebut bisa menghasilkan hingga 6,25 ton pipilan kering. Sedangkan jika basah, pipilan jagung bisa mengahasilkan kurang lebih 13,28 ton per hektare. Sementara, di kebun seluas 75 hektare milik warga Desa Simpang Berambai ini sudah siap panen dengan umur 110 hari sekitar 48 hektare. 


"Untuk kuantitasnya bisa dijumlahkan saja, tadi kan pipilan keringnya perhektare bisa sampai 6,25 ton. Kuntitas sudah baik, nah kualitasnya juga harus dijaga," jelas dia. (CECEP HERDI/m)