Potensi produksi beras di Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar) terbilang besar. Hingga 28 Januari 2016, dari total luas tanam 4.628 hektare, masa tanam Oktober-Maret (Okmar). 2.279 hektare di antaranya sudah mengalami panen. Namun begitu, daya serap produksi beras petani Kobar di pasar lokal masih jauh dari maksimal. Bahkan, Badan Urusan Logistik (Bulog) Sub Divre Pangkalan Bun juga masih belum bisa menampung beras lokal. Lantaran harga jual dari para petani lokal, jauh lebih tinggi dari kemampuan atau harga beli Bulog yang ditetapkan pemerintah.
Kepala Kantor Bulog Sub Divre Pangkalan Bun, Sutarno mengatakan, Perum Bulog Subdivre Pangkalan Bun siap membeli gabah atau beras produksi dalam negeri atau lokal, sesuai komponen kualitas sesuai Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 5 Tahun 2015. Yakni Gabah Kering Panen (GKP) di tingkat petani dengan harga Rp3.700 per kilogram (Kg), GKP di tingkat penggilingan seharga Rp3.750 per Kg, Gabah Kering Gililng (GKG) di tingkat penggilingan seharga Rp4.600 per Kg, GKG sampai gudang Perum Bulog seharga Rp4.650 per Kg dan beras di gudang Perum Bulog seharga Rp7.300 Kg.
"Bukannya Bulog tidak mau menampung atau membeli beras lokal. Harga jual dari petani Rp10 ribu. Sedangkan harga beli kita sesuai Inpres hanya Rp7.300 per Kg. Jadi kita tidak bisa beli," ujar Sutarno, Rabu (2/3).
Sutarno menceritakan, sewaktu panen raya di Desa Teluk Pulai, Kumai beberapa hari lalu. Dirinya telah mencoba melakukan observasi harga dan pendekatan terhadap petani. Ternyata, lanjut Sutarno, para petani cenderung jarang mengkomersilkan beras atau hasil panennya. Sehingga petani agak sulit menentukan harga jual beras hasil panen.
"Saya coba beli 2 Kg untuk contoh dibawa pulang. Karena petaninya bingung, saya beri uang Rp20 ribu dan saya tanya, apakah cukup layak untuk 2 Kg berasnya. Dia agak bingung sebelum akhirnya bila cukup. Berarti untuk menetapkan harga Rp10 ribu per Kg pun mereka masih belum terlalu yakin."
Menurut Sutarno, rasa beras lokal sebetulnya cukup baik. Hanya saja, beras milik petani masih terdapat beberapa kekurangan dalam komponen kualitasnya. Sehingga belum bisa ditampung oleh Bulog sebagai beras premium. Jumlah patahan atau menir beras petani masih terbilang banyak. Hal itu bisa disebabkan dari pengolahan pascapanen yang kurang hati-hati atau masih tradisional. Maupun kandungan kadar air beras. (RD)






