Warga Kelurahan Raja Seberang, Kecamatan Arut Selatan (Arsel), Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar), menuntut pemerintah daerah dan provinsi untuk segera memperbaiki jembatan titian. Jembatan yang merupakan akses utama masyarakat dalam beraktifitas itu kondisinya sudah tidak aman lagi untuk dilewati. Konstruksi jembatan titian kayu ulin yang dibangun pada 2010 melalui anggaran provinsi itu  bergelombang, dengan tingkat kemiringan 45 derajat.

Wajar saja, puluhan orang baik warga sekitar ataupun pedagang yang menggunakan roda dua, sering terjatuh saat melintasinya. Baru-baru ini warga di RT 4, Jalan Mak Jambek, Raja Seberang, bergotong royong mengangkat konstruksi jembatan ulin yang sudah patah.  Warga pun mengancam, ini gotong royong  terakhir kalinya dilakukan yang oleh warga. Sebabnya, warga sudah bosan meminta perhatian pemerintah.

Menurut mereka orientasi pembangunan yang katanya dimulai dari pinggiran hanya isapan jempol. Buktinya, pemerintah daerah hanya berkutat pada pembangunan peningkatan jalan-jalan permukiman di dalam perkotaan. 

Sementara kelurahan yang minim anggaran harus berjibaku dengan dana swadaya masyarakat untuk menambal sulam kerusakan jembatan titian itu. "Sampai kapan warga kelurahan Raja Seberang ini mempunyai infrastruktur jalan yang aman, nyaman untuk dilalui warga," keluh Ketua RT 04, Kelurahan Raja Seberang, Kecamatan Arsel, Kabupaten Kobar, Herlina, di kediamannya, Jumat (4/r/2016).

Herlina membandingkan, permukiman warga bantaran Arut di Kelurahan Raja dan Kelurahan Baru. Jalan-jalan menuju perkampungan dari Jalan Pangeran Antasari, sudah beraspal. Padahal, secara kewilayahan dan kondisi kontur tanahnya tidak ada yang berbeda. Harusnya kalau di wilayah tersebut bisa dilakukan kenapa tidak bisa diterapkan untuk Raja Seberang. "Warga bantaran Arut baik di seberang dan di wilayah Kelurahan Raja dan Kelurahan Baru sama saja kondisinya, tolong kepada pemerintah perhatikan hal ini," pinta Herlina. (KK/B-8)