Jelang penutupan total semua tempat lokalisasi oleh pemerintah, jumlah pekerja seks komersial (PSK) di berbagai lokalisasi di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) sudah mulai berkurang.
“PSK-nya sudah banyak yang pulang kampung. Alasan mereka pulang karena akhir-akhir ini pelanggan kurang,” kata Kepala Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Dinsosnakertrans) Kotim, Bima Ekawardhana, Jumat (4/3/2016).
Dari data Dinsosnakertrans Kotim, jumlah PSK di tiga lokalisasi di daerah itu sebanyak 303 orang pada 2015, . Pada tahun ini jumlah itu berkurang hanya tinggal 275 orang saja. Jumlah PSK yang berkurang itu berada di lokalisasi KM 12 Pasir Putih Jalan Jenderal Sudirman Sampit-Pangkalan Bun.
Di Kotim, terdapat tiga lokalisasi yang masih aktif, yakni lokalisasi Pal 12 Kelurahan Pasir Putih, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang yang dihuni 196 PSK. Lokalisasi Pal 12 Desa Mekar Jaya, Kecamatan Parenggean, dihuni 77 PSK; dan lokalisasi Desa Tangar, Kecamatan Telawang, sekitar dua PSK.
Sedangkan lokalisasi terbesar yakni di Jalan Jenderal Sudirman, Kelurahan Pasir Putih, yang lokasinya terbilang dekat dengan Sampit, Ibu Kota Kabupaten Kotim yakni hanya 12 kilometer.
Bima mengatakan, berkurangnya jumlah PSK di Kotim ini karena banyak dari mereka yang sadar dan membuka usaha sendiri. Mereka berbekal ketrampilan yang rutin digelar Dinsosnakertrans di tiga lokalisasi itu, seperti keterampilan memasak, menjahit, dan salon.
“Kami rutin memberikan pelatihan ketrampilan kepada mereka, dengan harapan kelak mereka keluar dari pekerjaannya itu dan membangun kehidupan baru dengan ketrampilan yang diajari selama ini,” harap Bima.
Para tokoh masyarakat dan ulama di daerah itu mendukung langkah pemerintahan Joko Widodo melalui Kementerian Sosial RI yang akan menutup total semua lokalisasi di Indonesia paling lambat pada 2019. Sebab, keberadaan lokalisasi selain dampak sosial, yang ditakutkan adalah merebaknya penyakit HIV/AIDS yang bisa menular kepada anak dan istri dari laki-laki yang sering ke lokalisasi. (RAFIUDIN/m)


