Menurut kepercayaan suku Dayak Ma’anyan, khususnya yang berada di Barito Selatan(Barsel), gerhana  memiliki pertanda 'baik dan buruk terhadap dunia'.

Hal tersebutd iungkapkan, Darlen M Linda, 73, yang merupakan sesepuh Desa Bundar  dan juga sebagai damang kepala adat kepada Borneonews via telepon selulernya. Sabtu (5/3/2016) siang.

Darlen mengatakan, menurut kepercayaan suku Dayak Ma’anyan, apabila bulan atau matahari ditutupi atau mulai lindung dari bawah ke atas maka itu pertanda tidak baik. Itu tandanya akan banyak manusia yang akan menderita berbagai macam penyakit. Dan sawah, ladang dan kebun bisa gagal panen.

"Sebaliknya, jikalau bulan atau matahari ditutupi mulai dari atas menuju ke bawah, itu juga pertanda sangat tidak baik. Karena manusia akan saling ribut baik itu perang, berebut kekuasaan dan lain sebagainya," lanjut Darlen.

Akan tetapi, lanjut dia, jika bulan atau matahari ditutupi gerhana baik dari kiri maupun dari kanan, maka itu merupakan pertanda bahwa dunia akan aman, adil, makmur dansentosa.

"Kita berharap gerhana nanti,  matahari akan ditutupi dari kiri dan kanan, sehingga dunia akan aman. Tidak ada lagi perang, banjir dan peristiwa-peristiwa yang merugikan umat manusia," harapnya.

Ia menceritakan, menurut legenda Dayak Ma’anyan ‘wulan telen’ bahasa Ma’anyan(gerhana). Gerhana itu terjadi karena bulan atau matahari ditelan sang naga.

Pada saat seperti itu, tradisi suku Dayak Ma’anyan mereka membuat sesajen,beramai-ramai keluar dari rumah melakukan tarian khusus tolak bala. Dan memukulgong, gendang serta benda-benda lain yang bunyinya nyaring.

"Hal itu dilakukan agar naga yang menelan bisa cepat-cepat mengeluarkannya lagi, sehingga bulan atau matahari bisa memancarkan cahayanya kembali," bebernya.  (Uriutu Djaper/*).