SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit - Program Pekarangan Pangan Lestari (P2L) dari sektor pertanian disebut sebagai salah satu langkah pengendalian stunting di wilayah Kabupaten Kotawaringin Timur.

Dampak dari pandemi covid-19 yang terjadi dianggap tidak hanya membawa masalah kesehatan masyarakat, tetapi juga berimplikasi luas, seperti kelancaran distribusi pangan, terbatasnya akses fisik dan ekonomi terhadap pangan, dan lainnya yang dapat menganggu ketahanan pangan individu, keluarga khususnya di Kotim.

"Program ini kami kembangkan untuk memenuhi kebutuhan pangan keluarga sehingga gizi tercukupi. Kami mengajak masyarakat memanfaatkan pekarangan dengan menanam aneka tanaman agar bisa dimanfaatkan sendiri" ujar Kepala Bidang Hortikultura, Fuji Rahmadi, Sabtu, 11 Maret 2023.

Kecamatan yang terpilih untuk melaksanakan program ini yaitu Desa Kapuk Kecamatan Mentaya Hulu, Desa Basawang Kecamatan Teluk Sampit, Desa Rantau Katang Kecamatan Telaga Antang, Desa Cempaka Mulia Timur Kecamatan Cempaga, dan Desa Tinduk Kecamatan Baamang.

"5 Kecamatan ini terpilih berdasarkan laporan terdapat anak dengan stunting yang ada di sana," jelasnya.

Saat ini pihaknya sedang dalam tahap sosialisasi kepada masyarakat terkait program tersebut. Selain untuk mendukung pemenuhan gizi dalam rumah tangga, melalui program ini diharapkan juga dapat memberikan penghasilan kepada ibu rumah tangga." Karena jika hasil tanaman hanya untuk kebutuhan rumah tangga saya kira lebih, jadi kelebihannya boleh dijual," imbuhnya.

--page

Program P2L ini diperuntukan kepada ibu rumah tangga dan dilakukan secara berkelompok dengan sarana produksi yang sudah disiapkan oleh Dinas Pertanian.

Sementara, angka stunting di Kotim pada tahun 2022 yakni 27,9 persen, meskipun angka tersebut menurun dari tahun sebelumnya, namun hal ini masih menjadi tugas berat sebab pemerintah menargetkan seluruh kabupaten kota menurunkan prevalensi sunting sebesar 14 persen pada 2024. (NOOR ANNISA/R)