Sembilan peneliti dari Jepang mendarat di Bandara Iskandar, Pangkalan Bun, Kotawaringin Barat (Kobar), Senin (7/3/2016) sekitar pukul 17.00 WIB. Mereka bakal mengamati Fenomena gerhana matahari total (GMT) pada Rabu (9/3/2016).
Bakal terjadi GMT ini rupanya telah diketahui terlebih dulu oleh para peneliti dari Jepang. Mereka pun memesan kamar di Swiss-Belinn Hotel Pangkalan Bun sejak 2012.
Saat disapa Borneonews dan diajak ngobrol seputar kegiatannya dalam pengamatan GMT, dua orang peneliti yaitu Koichi Yoshimura, 75, dan Sathosi Ishihara, 70, dengan ramah menjawab pertanyaan yang dilontarkan.
Namun kultur Asia dan pendidikan tinggi, membuat mereka terkesan merendah atas profesi masing-masing. "Saya cuma seorang pensiunan guru SMA dan pengamat amatir astronomi. Sejak beberapa tahun lalu, kami sudah memperkirakan GMT bakal terjadi 9 Maret 2016. Karena itulah kami sengaja booking hotel jauh-jauh hari," ujar lelaki asal Tokyo tersebut.
Saat ditanyakan peralatan apa yang dibawa untuk mengamati GMT, ia memperlihatkan kameranya. "Saya cuma membawa kamera poket yang menggunakan klise film," ujarnya sambil terkekeh.
Namun saat ditanyakan teleskop atau lensa yang dibawa, sambil tersenyum ia menjelaskan peralatannya. "Saya membawa lensa kamera buatan Nikon 1.000 mm. Jadi lensa tersebut sudah dimodifikasi jadi teleskop. Jadi pas GMT, tinggal tempelkan saja kamera poket saya ke jendela pengamat di ujung lensa," ujarnya.
Sifat rendah hati juga ditunjukkan oleh rekannya yaitu Sathosi Ishihara. Awalnya lelaki tersebut mengatakan ia cuma bekerja sebagai teknisi. Tetapi saat Borneonews berpura-pura kesulitan mengeja namanya, barulah ia mengeluarkan kartu namanya. Ternyata ia adalah Direktur New Media Research Institute yang berbasis di kota Tokyo. (WAHYU KRIDA/m)


