Di tengah hebohnya masyarakat Indonesia yang ingin melihat langsung fenomena alam gerhana matahari total (GMT), sebagian suku Dayak Ma’anyan di pedesaan memilih tinggal di dalam rumah. Kenapa?
Sebagian dari mereka masih mempercayai bahwa gerhana matahari mate andrau telen wulan (Matahari ditelan bulan) dilarang keluar rumah. Karena diyakini jika seseorang keluar rumah akan mendapatkan wabah penyakit.
“Kita masih percaya dengan cerita para sesepuh terdahulu, selain raja akan berganti, jika keluar rumah pada saat gerhana matahari akan tertimpa wabah penyakit seperti muntaber, kolera dan sakit kepala,” kata Tarino, pemuda Ma’anyan di desa Bundar, Kecamatan Dusun Utara kepada Borneonews, Rabu (9/3/2016).
Menurutnya, dengan keyakinan dan kepercayaan itu, maka pihaknya enggan keluar dari rumah karena merasa takut.
Lain halnya, lanjut dia, jika gerhana bulan atau disebut dengan bahasa Ma’anyan ‘wulan telan’.
Mereka berbondong-bondong keluar rumah melakukan tarian tolak bala ‘iwadian’, membuat sesajen, mengeluarkan minyak-minyak atau ajian serta benda-benda pusaka, serta masuk kedalam hutan mencari kayu-kayuan untuk dijadikan obat berbagai macam penyakit.
“Karena pada saat itu gerhana bulan masih diyakini bisa memperkuat serta mepertajam alimu (kekuatan supranatural) menjadi tak tertandingi,” bebernya.
Ia mengungkapkan, meski dalam hati selalu bertanya-tanya apakah cerita para leluhur benar apa tidak pada saat terjadi gerhana matahari atau pun gerhana bulan.
“Kendati sampai berumur 39 tahun, kami masih percaya mitos dari para nenek moyang, khususnya suku Dayak Ma’anyan,” lanjut dia.
Padahal tidak ada satupun bukti dan fakta dari cerita itu. Atau bukti itu ada, namun pada zaman nenek kakek kita terdahulu.
Menariknya, lanjut dia, fenomena alam ini bisa diketahui oleh orang-orang ahli, bahwa jauh-jauh hari sebelumnya mereka tahu pada 9 Maret 2016 terjadi gerhana matahari total, bahkan jamnya pun tepat.
“Meski begitu kita tetap percaya bahwa ini merupakan sebagian dari cerita bahwa gerhana matahari maupun bulan memiliki pertanda bagi suku Dayak Ma’anyan,” ujarnya.
Pantauan Borneonews, pada saat gerhana matahari total di Desa Bundar kurang lebih 1,5 menit, desa tersebut gelap gulita seperti malam. Namun detik-detik gerhana tersebut tidak terlihat karena tertutup kabut.
Berdasarkan keterangan dari beberapa warga, begitu juga di sekitar Desa Hingan, Maruga dan Talekoi, mereka lebih memilih berdiam di dalam rumah pada saat gerhana matahari total. Alasannya masih percaya dengan cerita para leluhur. (URIUTU DIAPER/m)


