Dari ratusan wisatawan asing yang datang ke Kota Palangka Raya untuk mencari visual gerhana matahari total (GMT), salah satunya adalah Sylvain. Ia seorang wisatawan Prancis. Ia rela jauh-jauh datang ke Kota Cantik demi GMT, Rabu (9/3) pagi.
Kedatangan Sylvain hanya sendirian karena ia mencoba menjadi seorang backpacker. Ia datang bukan langsung dari negaranya, Prancis, melainkan datang dari Hong Kong, tempatnya bekerja saat ini. Di negara itu, ia mendapat pekerjaan sebagai staf marketing dan humas untuk salah satu perusahaan.
Untuk datang ke Ibu Kota Kalimantan Tengah ini, ia mengaku menghabiskan HKD7 ribu Dollar Hongkong (HKD), atau setara Rp11.858.000. Biaya itu untuk transportasi pulang pergi dan menginap selama empat hari di Kota Cantik.
“Saya habiskan HKD7000. Itu karena saya menginap empat hari tapi tidak di hotel. Saya seorang backpaker,” ujarnya dalam bahasa Inggiris kepada Borneonews, saat mengabadikan detik-detik peristiwa GMT di lapangan Sanaman Mantikei, Rabu (9/3).
Peralatan yang dibawa pun cukup memadai, kamera DLSR yang dilengkapi lensa tele dan filter yang cukup mantap. Ia pun dikerubuti warga yang ingin melihat hasil live peneropongan dan hasil jepretan kamera yang disangga tripot itu. Bahkan ia pun jadi rebutan permintaan foto selfie.
Penuturan Sylvain, ia datang sejak dua hari lalu atau Senin dan berencana pulang lagi ke Hong Kong pada Kamis (10/3). Dua hari sebelum GMT ia manfaatkan untuk berjalan di Kota ini. Setelah menikmati GMT, ia mengaku ingin melihat penangkaran Orang Utan.
“Sore ini saya mau ke sana, mau lihat tingkah mereka. Lalu besok pulang,” ujarnya.
Ditanya terkait fenomena GMT Palangka Raya yang tertutup awan saat puncak gerhana sehingga tidak bisa menikmati corona yang menjulur saat dua menit yang dicari jutaan orang itu. Ia mengaku tidak terlalu kecewa. Sebab, menurut dia, memang cuaca unpredictable atau sulit diprediksi.
“Saya cukup puas saja, sebab saat detik-detik jelang gerhana totalnya tadi cukup bagus diamati. Padahal tadi cukup banyak berawan sehingga membuat cemas,” ujarnya.
Sementara itu, ada dua orang yang terlihat menemani Sylvain. Satu orang laki-laki dan satunya perempuan. Ternyata mereka pemandu wisata. Sang pemandu laki-laki itu mengatakan jika penyewa jasanya hanya tinggal di rumah seorang teman di Palangka Raya sehingga bisa ‘ngirit’.
“Dia punya teman chat online, sehingga sebelum datang ke sini ia sudah kontak temannya itu yang warga Palangka Raya. Makanya tidak menginap di hotel, tapi di rumah teman online itu,” ujarnya. (MUCHLAS ROZIKIN/m)


