Sebagian masyarakat umum maupun profesional, khususnya di Kota PangkalanBun kecewa lantaran tak dapat menyaksikan momen gerhana matahari total (GMT) karena faktor cuaca, Rabu (09/3/2016). Namun di balik itu, terdapat sebagian pihak yang masih bisa
tersenyum.
Mereka adalah para penjual peralatan bangunan. Pasalnya, kacamata las yang tersedia di toko mereka laris manis dibeli warga beberapa hari jelang GMT.
Menurut Andi penjaga toko bangunan Ponti Suri II yang berlokasi di Jalan Pasanah, Kelurahan Sidorejo, kacamata las yang tersedia bisa dikatakan barang yang paling banyak dibeli warga.
“Biasanya kacamata tersebut sangat jarang di cari orang. Paling yang membeli adalah tukang las. Bisa dikatakan dalam sebulan paling banyak 2 buah kacamata las dibeli orang. Jelang gerhana rata-rata 15 buah laku terjual dalam sehari,” ujarnya sambil terkekeh.
Tetapi beberapa hari jelang GMT, tiba-tiba banyak orang yang memburu kacamata tersebut berikut kaca tambahan.
“Karena kaca standar yang terdapat pada kacamata seharga Rp 15 ribu tersebut masih kurang gelap, maka kami sarankan untuk membeli kaca tambahan dengan ukuran kegelapan Shade 11. Tujuannya agar mata bisa lebih aman saat melihat GMT,” ujar Andi.
Namun saat hari-H terjadinya GMT, kemarin, ternyata gerhana yang diharapkan tak kunjung terlihat. Pasalnya hujan dan awan tebal sejak malam sebelumnya menyelimuti sebagian besar Provinsi Kalteng.
Salah seorang pengamat astronomi amatir dan penghobi fotografi Christian Ribut mengaku kecewa karena tidak bisa melihat dan mengamati GMT dengan jelas.
“Bahkan kacamata las yang saya beli sehari sebelumnya tidak sempat digunakan. Karena awan gelap menyelimuti Pangkalan Bun dan sekitarnya. Namun keberhasilan melihat GMT semuanya tergantung pada bagus atau tidaknya cuaca yang merupakan salah satu bentuk kekuasaan Tuhan.”
(Wahyu Krida/B-12)


