SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit - Pedagang pakaian di Pusat Perbelanjaan Mentaya (PPM) Kabupaten Kotawaringin Timur mengeluhkan penurunan omset penjualan hingga 80 persen dikarenakan sepinya pengunjung.

Mama Fajar, seorang pedagang pakaian mengaku, ada kalanya dalam seminggu dia hanya mampu menjual satu pakaian saja. Bahkan dari pantauan Borneonews.co.id di lapangan, pada akhir pekan pun lorong-lorong pasar khususnya bagian penjual pakaian terlihat sepi dan banyak toko yang tutup.

"Hari Minggu seperti ini aja sepi padahal ini barang baru datang," tuturnya, Minggu, 19 Maret 2023.

Dia mengatakan, saking sepinya ditambah lagi pandemi covid-19 yang pada saat itu masih membatasi ruang gerak, sehingga selama 3 tahun dirinya tak pernah belanja ke luar daerah dan hanya menjual barang yang ada.

"Itupun tak habis-habis. Kalaupun ada belanja sedikit sistem kirim saja," katanya.

--page

Pedagang lain, Nia, menduga salah satu penyebab sepinya toko pakaian di PPM disebabkan menjamurnya toko-toko yang diklaim dengan harga miring yang banyak di temukan di penjuru Kota Sampit khususnya.

Belum lagi tren belanja online yang dianggap praktis, menjadi salah satu penyebab yang dianggap membuat pasar tradisional seperti PPM menjadi sepi pembeli.

"Sekarang ini kalau mengharapkan jualan di sini saja tidak bisa, kita jual online juga, tawarin jualan ke teman-teman,"ungkapnya.

Menurutnya, mereka yang masih bertahan berjualan di sana berharap ada campur tangan pemerintah, bagaimana agar ke depan pembeli bisa ramai seperti dulu.

"Apakah bisa toko pakaian hanya dipusatkan di sini, mau serba murah atau apalah yang penting jadi satu di sini, atau mungkin ada kebijakan lain dari pemerintah. Karena kalau seperti ini terus lama-lama bisa bubar," pungkasnya. (NOOR ANNISA/J)