BORNEONEWS, Palangka Raya - Dirjen Industri Agro, Kementerian Perindustrian Putu Juli Ardika mengatakan bahwa dunia saat ini menghadapi tantangan berat terkait perubahan iklim, solusinya adalah emisi nol. Indonesia dengan biofuel sawit masuk ke sini.
"Produk oleokimia dari sawit berupa biopolimer juga akan jadi solusi untuk menggantikan polimer berbasis minyak bumi yang perlu ratusan tahun untuk terurai," kata Putu dalam rilis yang dikirim Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit atau BPDPKS pada Kamis, 23 Maret 2023.
Generasi mendatang, lanjut Putu, akan memimpin dunia dengan biofuel, biopolimer, bahan kimia dari biomassa, yang semuanya berasal dari sawit.
"Kementerian Perindustrian sangat mendukung pengembangan teknologi. Salah satunya lewat revisi PP nomor 1 tentang devisa hasil ekspor," tuturnya lagi.
Devisa ini harus diupayakan ada di Indonesia dalam jangka waktu tertentu sehingga bisa digunakan untuk pengembangan teknologi sampai komersialisasi.
Dengan nilai ekspor Rp500 triliun dan perdagangan dalam negeri Rp250 triliun, lanjutnya, ini merupakan bisnis sangat besar bagi perekonomian negara.
"Teknologi Pabrik Kelapa Sawit atau PKS sudah 100 tahun tidak berubah dan terima apa adanya dengan titik berat hanya memproduksi lemak. Sekarang kondisi sudah berubah, bukan hanya untuk pangan saja tetapi untuk bahan bakar masa depan, baik untuk green biodiesel, green avtur, green gasoline yang bisa langsung digunakan menggantikan bahan bakar fosil," bebernya. (TESTI PRISCILLA/H)









