BOOMING batu permata atau gem stone dan batu akik kini sudah meredup. Tidak lagi membuncah seperti setahun lalu. Pelaku bisnisnya pun banyak yang bertumbangan. Pasalnya, harga batu yang dulu sangat mahal, saat ini terperosok seperti barang rongsokan. 


Ada beberapa faktor yang membuat para pebisnis batu permata bertumbangan. Umumnya mereka pemain dadakan yang latah atau hanya mengikuti tren demam batu akik.


Misalnya seorang buruh bangunan di Pangkalan Bun, Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar), Kalimantan Tengah, tiba-tiba banting stir di tengah demam batu mulia dan akik. Ia, sebut saja Agung, terjun menjadi pengrajin yang mengolah dan menjual batu dengan harapan dapat ikut meraih untung yang menggiurkan.


Tapi, Agung kurang pengalaman dalam menggosok batu dan tidak memahami jenis batu yang bagus. Hasilnya pun dipandang ecek-ecek dan hanya laku di kalangan awam berkantong cekak. ‘’Akhirnya saya gulung tikar dan kini kembali jadi tukang bangunan,” katanya.


Harus mumpuni


Untuk terjun ke bisnis batu mulia dan akik, ternyata harus punya pengalaman dan pengetahuan yang mumpuni. Ini seperti dicontohkan, Irwansyah alias Dela (35 tahun), warga belakang markas Kodim Pangkalan Bun, Jalan Pangeran Antasari, Gang Flamboyan II RT 5, Kelurahan Raja, Kecamatan Arut Selatan.


‘’Pemilihan bahan yang tepat dan teknik menggosok batu yang benar, membuat harga jual batu semakin meningkat,” kata Dela (35 tahun), salah satu dari sedikit pemain batu mulia yang masih survive di Pangkalan Bun.


Dua kemampuan tersebut, selain didapatkan dari pengalaman, juga pengetahuan tambahan melalui kursus pengolahan batu permata. “Dengan begitu, saya bersyukur masih bisa bertahan,” kata pria yang menekuni bisnis batu mulia sejak duduk di bangku SMP itu.

Wahyu Krida