Pemadaman listrik yang terjadi di Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, selama sebulan tarakhir berimbas pada meningkatnya penjualan lampu darurat.
"Hampir setiap hari, ada saja yang laku. Biasanya paling yang beli adalah pekerja kebun, nelayan atau penambang rakyat, jadi seminggu itu belum tentu ada laku. Tapi selama musim pemadaman listrik ini, penjualannya memang jauh meningkat," kata Budi, salah seorang penjual lampu darurat di Sampit, Sabtu (12/3/2016).
Lampu darurat cukup membantu saat listrik padam. Selain praktis bisa dibawa ke mana-mana, sumber tenaga lampu darurat ini menggunakan baterai atau aki kecil sehingga dayanya bisa kembali diisi dengan menghubungkannya ke arus listrik.
Harga lampu darurat bervariasi tergantung ukurun, merek, bentuk dan kapasitas lampu. Harga dipatok mulai puluhan ribu hingga di atas Rp1 juta rupiah. Kini banyak penjual yang menawarkan lampu darurat ke kantor-kantor pemerintah, bahkan dengan pembayaran sistem kredit.
"Saya beli yang di atas Rp1 juta, kebetulan bisa kredit. Ukuran daya lampunya besar dan banyak fungsinya, jadi enak. Kalau dayanya habis, pengisiannya tidak hanya bisa dengan dicolok langsung ke listrik, tetapi juga bisa menggunakan panas matahari. Saya biasanya menggunakan panas matahari jadi bisa mengirit listrik," kata Maria, pegawai negeri di Sampit.
Penggunaan lampu darurat menjadi pilihan banyak warga karena praktis dan dinilai tidak terlalu berisiko. Jika menggunakan genset, warga harus mengeluarkan biaya membeli bahan bakar, harus menghidupkan dan mematikan genset, serta risiko kemungkinan terjadi masalah fatal pada mesin. Namun kelebihannya, daya yang dihasilkan genset memang lebih besar dibanding lampu darurat yang hanya mengandalkan aki kecil. (ANTARA/m)


