DUGAAN masih adanya para pekerja seks komersial (PSK) yang beroperasi sembunyi-sembunyi di lokasi berkedok warung kopi atau karaoke, menimbulkan kekhawatiran.


Kehawatiran tersebut, bukan hanya ditinjau dari sisi moral dan keamanan, tetapi juga dari sisi kesehatan.


Dari beberapa PSK yang beroperasi di tempat-tempat prostitusi terselubung tersebut, dicurigai positif berpenyakit. Bahkan dikhawatirkan mengidap HIV/Aids, pindahan dari kata-kota atau daerah lain.


Menyikapi kondisi tersebut, Dinkes Lamandau mengaku akan selalu melakukan pemeriksaan secara mandiri tanpa harus berkomunikasi atau melakukan pemeriksaan secara gabungan.


“Memang kita ada program rutin penyuluhan dan pemeriksaan serta pengambilan sampel darah dari orang-orang yang rentan tertular penyakit tersebut di tempat karaoke, dua kali setahun,” kata Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Lamandau, Jozeb HF Rumouw. 


Di lain sisi, Jozeb mengaku pihaknya merasa serba salah dengan melakukan pemeriksaan kesehatan di tempat karaoke yang menyediakan wanita pemandu lagu.


Karena sebenarnya beberapa tempat hiburan yang ada hanya memiliki izin usaha karaoke, tapi di dalamnya ada esek-esek.


“Kalau kita (Dinkes) melakukan pemeriksaan seakan-akan kita melegalkan. Tetapi kalau tidak diperiksa juga kita salah karena tidak melakukan pencegahan penuraran virus berbahaya,” ujarnya.


Hasil dari pemeriksaan kesehatan PSK di tempat hiburan juga bisa ketahuan saat itu juga. Tapi untuk menentukan positif atau tidaknya harus hati-hati.


Namun demikian, sambungnya, kalau diketahui bahwa ada PL positif HIV/Aids, yang bersangkutan akan dipanggil untuk dilakukan konseling dan dianjurkan untuk mau berobat.


Bisa juga dianjurkan untuk mencari profesi yang lain dan dipulangkan ke daerah asalnya.(HN/B-11)