DALAM kepercayaan Suku Da­­­yak di Provinsi Kalimantan Tengah, ketika Ranying Ma­hatala (Tuhan) mencip­ta­kan alam semesta, Dia juga ber­manifestasi di dalam be­be­rapa wujud untuk mem­ban­tu manusia.


Wujud mengerikan da­­ri ma­nifestasi Tuhan ini salah sa­tunya di­sebut Nyaru Menteng atau Nayu.


Seperti dilansir Folks of Da­yak (FoD), Nayu atau Nya­ru Menteng merupakan pe­nguasa perang, angin, pe­tir, halilintar, dan api.


Ia memiliki ciri badan se­perti manusia namun ber­warna merah darah. Da­ri tangannya bisa keluar petir.


Emil Bangkan, salah se­orang admin FoD, kepada Borneonews mengatakan bah­wa orang yang dipenga­ru­hi atau dikuasai oleh Nya­ru Menteng akan memiliki ke­beranian luar biasa untuk membunuh dan mencelakakan orang lain.


“Sebenarnya menurut ke­percayaan orang Da­yak, semua ma­nusia terlahir baik. Mereka tidak akan menyakiti orang lain dalam ke­adaan normal. Tapi kalau se­seorang sudah dikuasai oleh Nayu atau Nyaru Men­teng ini, entah kenapa dia akan memiliki hasrat un­tuk mencelakakan dan mem­bunuh,” ungkap Emil Bang­kan.


Nyaru Menteng, lanjutnya, adalah roh yang haus akan darah. Mereka suka meminum dan memakan sesuatu yang berwarna merah.

Sehingga dalam set­i­ap ritual pemanggilan Na­­yu, selalu di­gunakan darah hewan dan beras yang dil­umuri darah.


Dengan rutin memberikan persembahan darah dan makanan yang berwar­na merah kepada Nyaru Men­teng, maka seseorang da­pat memanggil-Nya, keti­ka menghadapi pertempur­an.


Ritual inipun digunakan oleh para prajurit Suku Da­yak yang dikirim ke Timor Les­­te, ketika zaman pembe­bas­­an Timor Timur.


Hasilnya, tidak ada satu orangpun prajurit dari Suku Dayak yang meninggal dunia atau tewas di me­dan pertempuran. Hal itu lan­

taran Nyaru Menteng atau Nayu diyakini selalu me­nyertai mereka ketika bert­ugas.


“Nayu ini juga yang di­pang­gil saat terjadi konflik di Sampit (Kabupaten Kot­a­wa­ringin Timur) pada 2001, ketika terjadi pertikai­an antara Suku Dayak dan Ma­dura,” sebut Emil Bangkan.


Selain di Kalteng, ritual pe­­manggilan Nahu juga dikenal oleh Suku Dayak di Ka­limantan Barat, hanya de­ngan nama yang berbeda. Di sana Nayu disebut dengan Kamang.

(TP/B-3)