ANTUSIASME umat Islam di negeri ini untuk menyaksikan Gerhana Matahari Total (GMT) pada 9 Maret lalu begitu menggebu.
Mungkin karena fenomena alam langka ini terjadi di Indonesia terakhir kali pada 1983 atau 33 tahun silam, sehingga bagi kebanyakan orang, menyaksikan GMT merupakan pengalaman beharga karena mungkin hanya dapat disaksikan sekali seumur hidup.
Dalam pandangan Islam, peristiwa GMT bukan sekadar fenomena alam. Fenomena GMT memiliki makna ruhiyah/spiritual yang begitu mendalam. Sayangnya, dalam suasana kehidupan sekuler (pemisahan agama dari kehidupan) seperti saat ini, peristiwa GMT tidak mampu sepenuhnya melahirkan kesadaran ruhiyah untuk semakin taat kepada Allah SWT. Umat Islam justru merespons datangnya GMT dengan berbagai aktivitas tanpa makna. Bahkan tak sedikit yang menyimpang dari ajaran Islam.
Secara sederhana, umat terpecah menjadi dua kelompok dalam menyambut GMT. Kelompok pertama, golongan umat Islam tradisional yang menyikapi datangnya GMT berdasarkan keyakinan dan tradisi peninggalan nenek moyang. Bagi kelompok ini, peristiwa GMT diyakini bisa membawa musibah atau wabah penyakit berbahaya. Sehingga ketika terjadi GMT, sebagian memilih berdiam di dalam rumah agar terhindar dari wabah yang muncul akibat peristiwa GMT. Sebagian lainnya, melakukan aktivitas ritual/adat dengan tujuan untuk mengusir mahluk jahat yang diyakini muncul saat GMT.
Kelompok kedua, yakni kalangan umat Islam modernis yang menolak nilai/keyakinan tradisional dan menyikapi datangnya GMT berdasarkan paham hedonisme (mengagungkan materi/kenikmatan duniawi). Bagi kelompok ini, GMT dianggap sebagai panggung hiburan dan sarana meraih kepuasan lahiriah, namun kosong dengan nilai-nilai spiritual.
Kelompok kedua ini baik secara individu atau kelompok rela mengeluarkan dana, tenaga dan waktu yang besar untuk berpergian jauh ke lokasi yang dianggap strategis untuk menyaksikan GMT.
Perilaku semacam itu memiliki irisan yang sama dengan kalangan nonmuslim, khususnya dari luar negeri yang rela jauh-jauh datang ke Indonesia untuk bisa menyaksikan peristiwa GMT secara langsung. Tujuannya sama yakni semata-mata untuk mendapatkan sensasi dan kepuasan duniawi yang tersalurkan dengan menyaksikan GMT.
Persoalan yang ada semakin rumit karena kebijakan pemerintah dalam menyambut GMT hanya berdasarkan asas manfaat (keuntungan materi). Atas dasar tersebut, pemerintah daerah di berbagai provinsi/kabupaten/kota yang menjadi tempat perlintasan GMT berlomba mempromosikan fenomena GMT sebagai event pariwisata yang memiliki nilai jual dan daya tarik bagi wisatawan.
Ironisnya, syahwat mendulang rupiah melalui kegiatan tersebut menjadikan fungsi perlindungan pemerintah atas keselamatan masyarakat menjadi terabaikan. Tidak ada proses edukasi dan penyadaran secara massif terhadap bahaya kebutaan mata akibat melihat GMT secara langsung.
Termasuk membiarkan penjualan kacamata khusus yang dijual bebas untuk melihat GMT. Padahal, para dokter ahli dari rumah sakit khusus mata Dr YAP Yogyakarta telah menyatakan mereka tidak menjamin aspek keamanan dari kacamata yang dijual secara bebas untuk melihat GMT.
Momentum strategis keimanan
Fenomena GMT semestinya dapat menjadi momentum strategis untuk semakin mempertebal keimanan dan ketaatan kepada Allah SWT sebagai pencipta dan pengatur seluruh jagat raya. Sebab, melalui GMT kita membuktikan dan merasakan secara langsung kebesaran dan kekuasaan Allah SWT dalam mengatur seluruh makhluk ciptaannya. Fenomena GMT memperlihatkan ketundukan secara totalitas seluruh planet di alam semesta untuk bergerak sesuai garis edar (sunnatullah) tanpa pernah melenceng sedikitpun.
Rasulullah SAW pun telah memerintahkan umat Islam untuk menjalankan salat sunnah gerhana ketika terjadi GMT. Ini karena pada masa kehidupan Nabi Muhammad SAW tepatnya 29 Syawal 10H/27 Januari 632 Masehi, terjadi gerhana matahari. Malam hari sebelum gerhana, wafatlah Ibrahim yang merupakan putra Rasulullah hasil pernikahan dengan Maria Al-Qibtiyah.
Al-Mughirah bin Syubah berkata “Terjadi gerhana matahari di masa Rasul pada hari meninggalnya Ibrahim. Orang mengatakan, ‘Matahari gerhana karena wafatnya Ibrahim.’ Lalu Rasulullah bersabda, ‘Sesungguhnya matahari dan bulan (adalah tanda tanda kebesaran Allah). Keduanya tidak ada hubungannya dengan gerhana karena kematian atau kelahiran seseorang. Apabila kamu melihatnya, maka shalatlah (gerhana) dan berdoalah kepada Allah sehingga ia menjadi cerah kembali.’” (HR Bukhari).
Pernyataan Rasulullah SAW bahwa terjadinya gerhana matahari tidak berhubungan dengan kematian atau kelahiran seseorang sekaligus menghapus tahayul yang berkembang di masyarakat ketika itu. Rasul SAW menegaskan bahwa terjadinya GMT semata-mata menunjukkan kekuasaan Allah SWT. Untuk itu, berbagai pemikiran, keyakinan, perbuatan dan tradisi yang bertentangan dengan ajaran Islam harus ditinggalkan karena dapat menjerumuskan kepada kemusyrikan.
Peran edukasi pemerintah
Dalam konteks ini, pemerintah berperan besar dalam memberikan edukasi dan perlindungan kepada masyarakat agar mampu bertindak secara benar dalam menyambut GMT. Lebih tepat jika munculnya GMT dioptimalkan untuk memperkuat keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT dengan memfasilitasi solat sunah gerhana secara massal.
Pada saat bersamaan, melarang berbagai aktivitas menyambut GMT yang dapat mengancam kesehatan/keselamatan warga atau bertentangan dengan prinsip ajaran Islam.
Meski demikian, pengamatan GMT bukan berarti dilarang sama sekali. Pengamatan GMT secara massal masih boleh dilakukan namun dengan tetap memprioritaskan aktivitas ruhiyah (solat sunah gerhana) dan memperhatikan aspek keselamatan publik.
Pengamatan GMT juga diperlukan bagi kepentingan strategis seperti pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Menurut intelektual muslim Prof Dr Ing Fahmi Amhar, pernyataan Nabi Muhammad SAW mengenai gerhana matahari mengakhiri tahayul dalam bentuk astrologi (ramalan bintang) yang selama itu menempel pada astronomi (ilmu perbintangan). Kajian astrologi diharamkan oleh para ilmuwan muslim, termasuk al-Farabi, ibn al-Haytham, ibnu Sina dan ibnu Ruysd.
Alasannya, astrologi adalah aktivitas perdukunan, yang menurut Nabi, barangsiapa mempercayai kata dukun ramal, salatnya akan tertolak selama empat puluh hari.
“Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan benar. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui.” (QS Yunus:5).
Lahirlah “astronomi Islam”, yang lebih dari sekadar ilmu yang terkait persoalan ibadah, seperti arah kiblat, jadwal salat dan hilal Ramadan. Peradaban Islam telah melahirkan ratusan astronom besar, yang menciptakan teknik-teknik pengamatan dan alat-alat pengamatannya, ratusan rumus dan metode perhitungan, ratusan jenis tabel almanak astronomi dan ribuan nama bintang yang dengan nama-nama Arab – bahasa yang pernah sangat dominan di dalam dunia astronomi.
Abu Nasir
Pengasuh Pondok Pesantren Asy Syifa, Kotawaringin Barat








