BORNEONEWS, Palangka Raya - Komisaris Independen pada Dewan Komisaris PT Perkebunan Nusantara IV atau PTPN IV Atas Wijayanto menyampaikan bahwa berdasarkan topografi, areal perkebunan dibedakan menjadi empat jenis yang penanganan konservasinya juga berbeda.
"Berdasarkan topografi, areal perkebunan dibedakan menjadi empat jenis yang penanganan konservasinya juga berbeda yakni areal berbukit atau hilly, areal tanah rata atau flat area, areal rendahan atau lowland, dan areal gambut atau peat land," kata Atas Wijayanto pada Rabu, 5 April 2023.
Hal ini disampaikannya dalam Webinar Mahasiswa Program Pascasarjana Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan, Universitas Sumatera Utara bertajuk Pengembangan SDA sebagai Penopang Perekonomian Masyarakat yang dilakukan secara online pada Rabu, 5 April 2023.
"Pembukaan lahan pada areal berbukit tentu akan menyebabkan Run Off air hujan sangat tinggi, hal ini akan menyebabkan tanah longsor, pendangkalan sungai yang bisa mengakibatkan banjir didaerah hilir," jelas Atas.
Untuk meminimalisir dampak tersebut, lanjut Atas, maka pembangunan perkebunan di daerah berbukit harus mentaati prinsip konservasi yaitu mengurangi laju aliran air, dan melindungi tanah dari terpaan air hujan.
Praktek dilapangan dilaksanakan dengan pembuatan teras bersambung, dan penanaman kacangan penutup tanah.
"Sementara untuk pembangunan perkebunan kelapa sawit di areal rata atau flat area, perlu untuk mempertahankan fungsi lahan sebagai daerah tangkapan air atau water catchment," jelasnya lagi.
Karena itu menurutnya di areal rata dibuat parit parit untuk menampung air pada waktu hujan yakni meningkatkan kapasitas infiltrasi, dan agar tetap tersedia pada waktu kemarau. Biasanya dibuat parit 4:1 artinya 4 setiap 4 baris tanaman dibuat 1 jalur parit.
"Lalu untuk di daerah rendah atau lowland, untuk menghindari agar tanaman tidak tergenang air, maka dibuat parit parit besar dan tanah galian parit dipakai untuk meninggikan tapak tanam atau guludan," bebernya lagi.
Hal ini menurutnya juga berfungsi untuk meningkatkan kapasitas penyimpanan air pada area tangkapan air. Biasanya dibuat parit 2:1 artinya setiap 2 baris tanaman dibuat 1 jalur parit, dan tidak langsung di tembuskan ke sungai beast sehingga pada waktu hujan air tidak semua habis masuk ke sungai.
"Terakhir, untuk di areal gambut itu pada prinsipnya adalah pengelolaan air atau water Management, artinya diusahakan agar tanaman tidak tergenang dan tidak terlalu kering waktu kemarau. Seperti halnya di areal rendahan/rawa, pada areal gambut tidak hanya harus dibuat parit parit 2:1 namun namun juga harus dibuat bendungan tiap 300 m untuk mempertahankan agar permukaan air tetap pada posisi 50-60 Cm dari permukaan tanah," tegasnya.
Webinar ini dimoderatori oleh Mahasiswa Pascasarjana PSL-USU, Mahendra B Sitinjak dengan narasumber antara lain Direktur Eksekutif Belantara Foundation, Dr Dolly Priatna, lalu Komisaris Independen pada Dewan Komisaris PT Perkebunan Nusantara IV, Atas Wijayanto, serta ada Praktisi Budidaya Lebah Madu, Slamet Suryadi.
Webinar tersebut dibuka oleh Direktur II Sekolah Pascasarjana USU Prof Hamidah Harahap mewakili Direktur Pascasarjana USU, Prof T Sabrina. Selain itu pula, hadir dalam webinar ada Wakil Direktur I Sekolah Pascasarjana USU, Evawani Aritonang dan tentu saja Ketua Program Studi S2 dan S3 Pascasarjana Pengelolaan Sumberdaya Alam, USU, Prof Rahmawaty sebagai Keynote Speaker pertama serta Prof Dr Abdul Rauf sebagai Keynote Speaker kedua. Selain itu, hadir sebagai Penanggap dalam webinar ada Prof Dr Ritha F Dalimunthe. (TESTI PRISCILLA/H)









