SL, inisialnya. Perempuan berusia 25 asal Lumajang, Jawa Timur ini mengadu nasib di Lamandau sebagai pekerja seks komersial (PSK). Ia mengaku pernah melayani 4-5 pelanggan tiap hari. Pendapatannya mencapai Rp30 juta dalam tiga bulan.
Bisnis dunia malam yang dia lakoni memang mampu mendatangkan pundi-pundi rupiah.
“Selama saya di H-5 sekitar tiga sampai empat bulan, pelanggan saya lumayan ramai. Rata-rata perhari saya dapat tamu 4 - 5 orang. Dengan tarif short time Rp250-300 ribu per orang. Kadang ada juga yang bayar lebih karena mengaku puas,” kata wanita berstatus single parent itu.
Para pelanggan yang seringkali menggunakan ‘jasa’nya adalah supir truk dan pekerja perkebunan yang banyak melintas di daerah tersebut, baik siang maupun malam.
Hanya satu alasan yang membuat SL mau meninggalkan anaknya di Jawa, dan memilih melakoni bisnis prostitusi.
“Uang sekitar Rp30 juta itu mungkin kalau dijumlahkan selama saya di H-5, tapi setelah pindah ke H-6 pelanggan lebih sepi. Biasanya uang tersebut saya kirim ke Jawa untuk membiayai anak yang saat ini diurus ibu saya. Jadi kalau sudah kumpul dua atau tioga juta, baru saya kirim,” beber wanita hitam manis itu.
Penuturannya, sebelum menginjakkan kaki di Lamandau enam bulan lalu, dirinya pernah menjalani profesi serupa di Batu Licin dan di Bali. Dengan alasan untuk biaya hidup keluarga, terutama anaknya yang berusia tiga tahun.
(Hendy NF/B-11)


