BORNEONEWS, Palangka Raya - Harga komoditas cabai merah di Pasar Tradisional Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah kian tak terkendali. Kenaikan harga terjadi sejak dua pekan terakhir hingga mencapai angka dua kali lipat dari harga biasanya. 


Jika biasanya harga cabai merah hanya Rp30.000, Senin (14/3/2016) Borneo News menemui harga komoditi ini sudah mencapai Rp60.000 per kilogram.


Kenaikan tersebut ditengarai karena kurangnya pasokan dari petani cabai.


"Biasanya kita bawa 10 karung cabai berukuran 40-60 kilogram per karungnya. Ini dari Banjarmasin dan langsung dibagi-bagi ke pedagang yang sudah pesan sebelumnya," ungkap Fahrianoor, seorang sopir pengantar.


Ia mengatakan, pasokan cabai yang datang memang berkurang dari biasanya. Jika biasa ia mampu mengantar 15-20 karung cabai per hari ke Pasar Besar dan Pasar Kahayan di Palangka Raya, kali ini ia hanya mampu mengantar separuhnya.


Sementara itu Ummy, seorang pedagang sayuran di Pasar Besar mengatakan, sebelumnya ia menjual cabai merah kecil dengan harga Rp30.000 per kilogram. Saat ini ia menjual Rp 60.000 per kilogram. Padahal ia hanya mengambil untung sebesar Rp2.000 rupiah dari tiap kilogram cabai merah.


"Sekarang ini kalau beli sehari paling cuman setengah kilogram saja, supaya bagi-bagi dengan pedagang lainnya," ungkapnya.


Kasus serupa juga dialami Nurmayati, pedagang lain di Pasar Kahayan. Ia pun menjual cabai merah kecil dengan harga yang sama.


"Biasanya ngambil dari petani di sini nggak ikutan pesan di Banjarmasin. Tetapi sekarang ini petani juga kehabisan, kadang ada kadang tidak," akunya.


Dikonfirmasi hal tersebut, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kalteng, Susana Ria Aden melalui Kepala Bidang Perdagangan Dalam Negeri Dinas Perindustrian dan Perdagangan, Ilham Fauzi mengatakan, naiknya harga cabai disebabkan oleh kurangnya pasokan cabai dari petani akibat curah hujan yang tinggi di Kalimantan Tengah. Petani di provinsi berjuluk "Bumi Tambun Bungai" itupun tidak bisa memenuhi kebutuhan pasar.


"Petani cabai di Kalteng ini sedang kesulitan memproduksi, selain karena hujan, beberapa lahan mereka juga digunakan untuk tanaman sayuran lainnya,” kata Ilham.


Ilham menambahkan, panen cabai dari petani kali ini berkurang jauh dari biasanya. Bahkan, hal tersebut tidak hanya terjadi di Kalimantan Tengah, di Banjarmasin pun panen cabai berkurang.


"Biasanya kalau petani kita kurang panen, kita minta dari Banjarmasin, tetapi di sana juga kekurangan," tutupnya. (TESTI PRISCILLA/m)