DPRD Kotim mengusulkan untuk merelokasi Bandara H Asan Sampit, agar dapat dikembangkan menjadi bandara berskala nasional bahkan internasional. Lokasinya, bisa dipilih di wilayah Selatan Kotim, yakni di Desa Ujung Pandaran, Kecamatan Teluk Sampit, ataupun di jalur lintas kabupaten Jalan Jenderal Sudirman.
Hal itu diungkapkan Ketua DPRD Kotim Jhon Krisli, saat memimpin Rapat Dengar Pendapat (RDP) masalah pengembangan bandaram dengan manajemen Badara H Asan Sampit dan instansi terkait, di Ruang Rapat Paripurna DPRD, Selasa (15/3/2016).
Menurutnya, komitmen Presiden Joko Widodo dan Menteri Perhubungan Ignasius Jonan mengembangkan bandara di beberapa wilayah Indonesia yang menjadi titik-titik pusat ekonomi. Ini merupakan peluang yang harus dijemput pemerintah daerah Kotim.
“Kami punya mimpi merelokasi bandara ke wilayah selatan Kotim, sehingga bandara di daerah ini bisa menjadi bandara nasional bahkan internasional. Pemerintah daerah jangan hanya berpikir lima hingga sepuluh tahun kedepan, tetapi pengembangannya dua puluh hingga tiga puluh tahun kedepan,” kata dia.
Jhon beralasan, keberadaan Bandara H Asan Sampit di lokasi sekarang sulit dikembangkan. Biaya pembebasan lahan sangat tinggi, sekitar Rp200 ribu lebih per meter persegi. Selain itu, lahan bandara yang tersedia saat ini sekitar dengan panjang 2.060 meter dengan lebar 150 meter.
“Apabila dikembangkan hingga panjang 2.250 meter dengan lebar 300 meter sesuai masterplane, harus melepas sebagian Jalan Lingkar Utara. Padahal jalur Lingkar Utara termasuk jalan strategis nasional,” jelas dia.
Hal senada juga disampaikan Anggota Komisi IV DPRD Kotim Dani Rakhman. Menurut dia, opsi memindahkan bandara menjadi perhatian pihaknya di komisi IV DPRD Kotim. Sebab, berdasarkan pengalaman saat musim kemarau disertai kabut asap melumpuhkan penerbangan di daerah ini. Desa Ujung Pandaran, Kecamatan Teluk Sampit, yang dekat dengan laut dinilai cocok karena bebas dari kabut asap.
“Saat kami melakukan kunjungan kerja di musim kabut asap, sekitar 30 kilometer dari Desa Parebok hingga Desa Ujung Pandaran, sudah tidak ada kabut asap,” kata dia.
(B-11)


