TIDAK hanya meng­ge­na­­ngi permukiman pen­­­duduk di bantar­an Sungai Jelai, banjir juga merendam la­han per­ta­nian di Kelurahan Padang dan Mendawai, Kecamatan Su­­kamara, Kabupaten Suka­ma­ra.


Intensitas curah hujan yang terus meningkat membuat debit air Sungai Jelai me­­luap menjadi penyebab uta­ma. Petani pun hanya bisa pas­rah karena kondisi alam ter­sebut.


Kepala Bidang Pertanian Di­nas Pertanian dan Peterna­kan (Distanak) Kabupaten Suka­mara Suhadi mengatakan, se­dikitnya 70 hek­tare lahan per­tanian te­ren­dam banjir akibat meluap­nya air Sungai Jelai.


Lahan pertanian yang te­ren­­dam milik Kelompok Ta­ni Sepakat Makmur dan Ha­rapan Baru. Bahkan lahan per­tanian milik dua kelompok itu telah terendam banjir se­jak Februari lalu.


“Ini akibat curuh hujan yang tinggi sehingga lahan per­tanian di dua kelurahan ter­endam banjir. Luas lahan yang terendam untuk Kel­urahan Padang sekitar 50 hek­tare dan di Kelurahan Men­dawai 20 hektare,” tutur Su­hadi saat ditemui Borneo­news di ruang ker­janya, Sela­sa (15/3/2016).


Meski lahan pertanian te­ren­­dam bajir, ia mempredik­si tanaman padi petani tidak akan mengalami gagal panen. Se­bab banjir melanda saat pa­di sudah memasuki usia panen. Selain itu, air yang me­rendam tidak melebihi tinggi da­ri tanaman padi.


“Ini tidak akan menyebab­kan gagal panen karena pa­di­nya sudah akan dipanen. Jadi para petani tidak akan rugi” ucap Suhadi.


Untuk lahan pertanian di dae­­rah lain, sambung dia, se­ja­uh ini aman-aman sa­ja. Saat ini juga sudah men­de­ka­ti masa panen.


Ia pun tetap ya­kin pro­duksi beras organik di Ka­bupaten Sukamara tahun ini akan me­­ningkat.


“Untuk lahan pertanian di wi­layah Kecamatan Pantai Lun­ci, Kecamatan Jelai, Desa Kar­ta Mulya (Kecamatan Su­kamara) aman-aman saja dan ini sudah memasuki ma­sa panen. Kita bisa lihat su­dah banyak masyarakat yang menjemur hasil panen di depan rumah,” ujarnya. 


Di sisi lain, Distanak Suka­ma­ra terus berupaya meng­op­timal­kan program tiga ka­li tanam setahun untuk me­nutupi kekurangan beras se­banyak 4.000 ton per tahun, sekaligus mewujudkan wa­cana swasembada pangan pa­da 2017.


Hanya, program itu masih ter­­kendala kebiasaan atau po­­­la tanam masyarakat (peta­ni) yang ma­sih suka  ber­pindah-pin­­dah. (MG13/B-3)