PEMADAMAN yang dilakukan Perusahaan Listrik Negara (PLN) di Kota Sampit, Kotawaringin Timur (Kotim) membuat masyarakat bingung dan seringkali marah. Seakan tak kenal waktu, baik siang maupun malam listrik terus mengalami pemadaman dalam waktu lama sekitar 4-5 jam sehari.
Budi, (32 tahun), warga Perumahan Tidar, mengaku pada Selasa (16/3/2016) malam lalu pemadaman listrik berlangsung sejak pukul 17.30 WIb dan baru menyala sekitar pukul 22.00 WIB. “Kami di ruamh terkejut, tiba-tiba saja listrik padam menjelang waktu salat maghrib. Efeknya, anak saya di rumah malam itu tak bisa belajar,” keluh dia, Rabu (16/3/2016).
Salsabila, (13 tahun) pelajar Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) Sampit, mengaku was-was menghadapi ujian tengah semester (UTS) di sekolahnya yang mulai digelar awal pekan depan. “Mulai Senin (21/3/2016) UTS di sekolah kan sudah mulai. Kalau tiap malam padam lampu, bagaimana kami yang mau menghadapi ulangan umum belajar. Menunggu listrik hidup teralu kemalaman. Reringkali ketika lampu hidup saya sudah ketiduran,” gerutu dia.
Ia berharap agar PLN tidak mematikan lampu pada malam hari, terutama sebelum pukul 22.00 WIB. Sebab, pada waktu itu jam belajar anak sekolah di rumah. Terpisah, Manager PLN Ranting Sampit Ginter Theo Limin mengatakakan, pemadaman bergilir tidak bisa dihindari karena adanya overhoul mesin pembangkit listrik di Asam-Asam, Kalimantan Selatan.
PLN juga tidak berdiam diri, tetapi tetap melakukan upaya meminimalisasi pemadaman. Saat ini PLN Wilayah Kalselteng sedang merelokasi mesin PLTD dari Bali dan Riau. Mesin PLTD dari Bali berkapasitas 30 Mega Watt dan mesin PLTD dari Riau berkapasitas 20 MW. Ditargetkan akhir Maret nanti ada tambahan daya 50 MW dan masuk sinkronisasi dengan sistem kelistrikan Kalselteng. (RF/B-7)


