ANGGOTA Komisi IV DPRD Kalsel, Puar Ju­naidi menganggap­ penyediaan alat olah­raga di lembaga legislatif­nya salah satu bentuk meng­ham­burkan anggaran.


“Karena mungkin ada yang le­bih penting dan utama dari­pada penyediaan alat olahraga bagi wakil rakyat,” ka­tanya.


Untuk itu politisi Golkar­ ini menyatakan tidak sepen­dapat, bahkan menolak renca­na pengadaan alat olahraga atau fitnes untuk gedung ba­ru DPRD Kalsel.


Alasan lain penolakan pe­nye­diaan alat olahraga deng­an perkiraan menggunakan anggaran Rp220 juta itu ka­rena pemerintah provinsi su­dah menyediakan Balai Olahraga dan Kesehatan Ma­syarakat (BOKM).


Selain itu dikhawatirkan ha­nya untuk main proyek de­ngan mengatasnama keperlu­an anggota DPRD.


Rencana penyediaan alat olah­raga itu merupakan usulan Sekwan DPRD Kalsel, Sya­ripul Hanafi akan masuk da­lam APBD 2017.


Sementara nota dinas Sek­wan Kalsel tanpa nomor 4 Maret 2016 yang ditujukan kepada pimpinan DPRD itu ren­cananya ada sembilan je­nis alat olahraga dengan jum­lah unit dan harga yang berbeda.


Ke-9 alat olahraga yang men­jadi usulan itu meliputi­ lat pull down atau alat kontrol beban 95 Kg senilai Rp11,5 juta, lat row atau beban­ 95 Kg Rp11,5 juta, smith machinne Rp14,5 juta, dan shoulder press machinne Rp14 juat.


Selain itu double fix rubbe­red 4-20 Kg + rak Rp18,5 juta, spinning bike tiga unit Rp5,5 juta, crosstrainer HNA tiga unit Rp14,8 juta, dan treadmill AC, 3 HP tiga unit Rp30 juta. (Ant/B-6)