SEJAK era 1970-an, Desa Bundar, Kabupaten Barito Selatan menjadi pusat perekonomian dan pendidikan untuk wilayah Kecamatan Dusun Utara. Saat itu hanya Desa Bundar satu-satunya yang punya pasar dan sekolah.
Tokoh warga Desa Bundar, Bubun Andreas Djaper menceritakan saat itu hanya Bundar yang memiliki pasar dan sekolah. Dengan begitu, anak-anak dari Desa Talekoi, Hingan, Maruga, Gunung Rantau, Tamparak Layung, Rampa Mea, Panarukan, Hulu Tampang, Reong, Mantarem, Majundre, Sei Telang dan sekitarnya bersekolah di Bundar.
Begitupun jika ke pasar, karena pada hari Selasa dan Rabu, pasar mingguan di desa mulai dibuka. Jadi banyak warga yang sekolah maupun berbelanja ke Desa Bundar.
“Seiring berjalannya waktu, pada 1975, SLTP Bundar berubah menjadi negeri dan pada 1984 dibangun SMAS Tanjung Pinang Bundar,” kata Bubun Andreas Djaper kepada Borneonews di kediamannya, Rabu (16/3/2016).
Dengan didirikan SMA swasta di ibukota kecamatan pun kalah dari segi pendidikan saat itu. Karena saat itu hanya Desa Bundar yang ada SMA seluruh Barsel.
Terpisah, Nating Rani mengatakan, selain pusat perekonomian dan pendidikan desa Bundar juga punya andil memperjuangkan kemerdekaan RI karena ada markas yang dikenal dengan nama Tanjung Pinang dan juga untuk Provinsi Kalimantan Tengah lewat pejuang Gerakan Mandau Talawang Pancasila (GMTPS).
“Jadi Bundar bukan hanya pusat perekonomian dan pendidikan, tapi punya nilai historis perjuangan terhadap RI dan Kalteng,” kata Nating Rani, tokoh penggagas GMTPS. (UR/B-6)


