SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit - Salah satu warga menarik perhatian tim borneonews.co.id setelah kegiatan Kotim Bershalawat usai pukul 22.00 WIB.

Laki-laki berasal dari Banjarmasin itu sedang menjual foto atau poster ulama di area Terowongan Nur Mentaya, Jalan Tjilik Riwut, Sampit.

Ia meletakkan kardus dagangannya di tengah jalan yang kebetulan di tutup untuk kendaraan. Tumpukan foto ulama yang telah dilaminasi berserakan keluar dari kardusnya setelah beberapa warga mengerumuninya. 

"Tiga sepuluh ribu, tiga sepuluh ribu," kata Ahyat, pedagang dari Banjarmasin, Minggu, 30 April 2023.

Tak hanya foto ulama, sebelum acara dimulai dirinya menjajakan alas plastik. Bermanfaat bagi warga untuk duduk sembari menikmati penampilan Opick.

Ahyat tak sendiri, dirinya bersama 5 orang lainnya sengaja datang ke Sampit untuk kegiatan keagamaan. Minggu pagi mereka menghadiri haul ke-5 Guru Asri di Desa Babaung Besar, Kecamatan Pulau Hanaut. Malamnya turut bershalawat di Terowongan Nur Mentaya. 

"Kami memang selalu mengikuti kegiatan keagamaan seperti ini sembari berdagang. Kadang orang-orang tidak kepikiran membawa alas untuk duduk, kami jual alas. Foto ini sebagai souvenirnya," ujarnya. 

Ia menjual alas plastik Rp 10 ribu per lembar, foto ulama ukuran kecil Rp 10 ribu per 3 lembar dan foto ulama ukuran besar Rp 10 ribu per lembar. 

--page

Ahyat tak menyebutkan omsetnya, namun ia mengatakan penghasilannya dalam sekali acara cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Sebuah keberkahan setiap agenda besar yang digelah di Kotawaringin Timur. Pedagang selalu mendapat keuntungan lebih. Hal ini pun sempat diutarakan Bupati Kotawaringin Timur mengenai pemilihan lokasi shalawat akbar di Terowongan Nur Mentaya. Ia berharap terus menggerakkan perekonomian di ikon baru kota Sampit itu. Nyatanya tak hanya bagi pedagang lokal, pedagang dari luar kota turut kebagian rezekinya. (DEWI PATMALASARI/R)