DINAS Kesehatan (Dinkes) Barito Timur (Bartim) menilai, secara umum penerapan program Setop Buang Air Besar Sembarangan (BABS) di daerah ini berjalan positif. Namun dari 102 desa dan tiga kelurahan di kabupaten tersebut, baru 22 desa yang sudah mendeklarasikan program ini.


Menurut Pengelola Program Kese­hatan Lingkungan (Kesling) Dinkes Bartim Puji Astuti, belum bebasnya sejumlah wilayah dari BABS diakibatkan sejumlah kendala. Salah satunya adalah keinginan masyarakat agar pembangunan sarana sanitasi dilakukan sepenuhnya oleh pemerintah.


Padahal, pada dasarnya, tujuan utama program tersebut bukan penyedia­an sarana yang bersumber dari bantuan pemerintah, melainkan menumbuhkan kesadaran masyarakat akan pentingnya sanitasi dan pemberdayaan. 


“Dalam program itu, tujuan yang ingin dicapai adalah mengarahkan masyarakat melakukan analisa masalah wilayahnya sendiri, kemudian menjalankan tahapan perencanaan, pelaksanaan pembangunan sarana sanitasi, monitoring, evaluasi, hingga pemanfaatan dan perawatan secara gotong royong,” kata Puji, belum lama tadi.


Mengoptimalkan penerapan program pemberdayaan tersebut, selama ini pihaknya proaktif menggerakkan peran petugas kesehatan yang ada untuk merangsang partisipasi dan kesadaran masyarakat terkait pentingnya penerapan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) sebagai penunjang aktivitas sehari-hari.


Disamping itu, teknis juga terus mempromosikan desa yang sudah mendeklarasikan kegiatan supaya menjadi contoh bagi desa lain di sekitarnya. Hal itu bertujuan menularkan kebiasaan positif tersebut ke tengah masyarakat. 


“Kami menginginkan kesa­daran terkait pembenahan lingkungan dan penerapan perilaku hidup bersih sehat menjadikan masyarakat Bartim sehat,” jelasnya.


Meskipun masih banyak desa yang belum mendeklara­sikan Stop BABS, lanjut Puji, namun pihaknya tidak henti-hentinya melakukan program pembinaan dan pemberdayaan. (Tbs/B-5)