MANTAN Rektor Universitas Pa­langka Raya (UPR) Na­pa J Awar mengaku sedih dengan me­­rebaknya kabar dugaan pu­ng­utan liar dan sistem ku­li­ah transaksional di dalam kam­­pus negeri terbesar di Kalteng itu.


Ia berharap hal semacam itu segera dibasmi sebagai sa­lah satu upaya pemberantas­an korupsi.


Napa mengatakan, kampus me­­rupakan lembaga peng­kader­­­an, tempat kebebasan aka­­­de­mik, dan kebebasan ber­­­pikir. Dengan begitu akan tercipta pe­nerus bangsa yang kuat, kri­tis, dan memiliki moral bagus.


Karenanya, ia mengaku ti­­dak habis pikir bagaimana bi­sa UPR berani melakukan pungli terhadap mahasiswa.


Pungli dan sistem kuliah trak­saksional, sambungnya, hanya akan menciptakan orang-orang korup dan bermoral jelek. “Dosen itu seperti tukang asah pisau. Pekerjaannya membuat tajam. Masa tum­pul kita bilang tajam? Ba­gaimana mau digunakan un­­tuk membersihkan ila­lang?” krtik Napa, Jumat (18/3/2016).


Pria bergelar doktor yang hi­­dup sederhana di Jalan Man­g­ku Rambang, Palangka Raya, ini menyebut sudah saat­nya semua pihak bersa­ma-sama membenahi UPR su­paya bisa menjadi kebangga­an Kalteng. (CA/B-3)