MASYARAKAT Kabupa­ten Su­­kamara yang masih meng­gu­­­nakan kompor minyak me­­ngeluhkan sulitnya men­da­patkan minyak tanah. Ka­lau­pun ada harganya sangat ma­hal.


Minyak tanah di Kabupa­ten Sukamara mulai langka sejak pemerintah pusat mem­ber­lakukan program konver­si minyak tanah ke gas elpiji. Na­mun, program itu tidak di­iringi dengan kehadiran agen elpiji.


Akibatnya, masyarakat yang telah menerima bantu­an ke­sulitan mengisi ulang kom­por dan tabung gas mere­ka. Hal inilah yang kemudi­an menyebabkan banyak ma­syarakat kembali mengguna­kan kompor gas.


Namun, keputusan kembali menggunakan alat lama tidak lantas memecahkan persoal­an. Sebab, keberadaan mi­nyak tanah di Bumi Gawi Barinjam mulai langka.


Sira, warga Kelurahan Pa­dang, Kecamatan Sukamara, me­ngatakan bahwa sejak sub­sidi minyak tanah dica­but oleh pemerintah pusat, ke­beradaan bahan bakar itu menjadi sulit ditemukan. Ji­kapun ada dirinya harus mem­bayar dengan harga yang cukup mahal.“Sekarang cari minyak ta­nah susah, harganyapun ma­hal,” kata dia, Minggu (20/3/2016).


Sira menuturkan, perbedaan harga saat subsidi minyak tanah belum dihapus dan sesudah dihapus terpaut be­gitu jauh. Kondisi itu tentu memberatkan masyarakat. “Du­lu harganya Rp6.000 per li­ter. Sekarang Rp10 ribu. Se­lisihnya Rp4.000 dalam 1 liter, belum lagi carinya su­sah,” keluh ibu rumah tangga ini.


Keluhan sama dilontarkan Yana, warga Kelurahan Mendawai. (MG13/B-3)