PENGIKUT ormas terlarang Gerakan Fajar Nusantara (GAFATAR) sudah terlanjur dianggap se­bagai orang-orang eksklusif atau tertutup dari pergaulan sosial. Ini karena mayoritas mereka hidup berkelompok, terpisah dari warga kebanyakan.


Namun, faktanya tidak semua begitu. Ini tercermin dari kehidupan keluarga Tran Juwono, warga eks Gafatar asal Lamongan, Jawa Timur. Ia tinggal di Nanga Bulik, Kabupaten Lamandau, Kalimantan Tengah.


Saat disambangi Borneonews di kediamannya, ruko di Kompleks Perkantoran Bukit Hibul, Tran Juwono terlihat sangat bersikap terbuka. Bagi dia, jika bersikap eksklusif seperti citra kebanyak eks Gafatar, tidak akan memilih pekerjaan yang berinteraksi dengan orang banyak. 


“Tertutup apanya, Mas. Wong saya menekuni usaha bengkel seperti ini. Setiap hari bertemu dengan banyak orang,” cetus Tran dengan nada santai.


Tak tahu apa-apa


Bapak dari empat orang anak itu telah membuka usaha bengkel sejak empat bulan lalu. Namun, ia juga mengungkapkan kedatang-annya ke Lamandau untuk menggarap lahan di Desa Kujan, pada akhir 2014. Ketika itu ia bersama kawan-kawan yang dikenalnya sesama Gafatar dari berbagai daerah yang dikumpulkan di Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim).


“Selain membersihkan lahan dan menggarapnya, saya juga mencari aktivitas lain. Dan, kebetulan ketemu peluang usaha buka bengkel ini. Jadi, menurut saya, tidak benar jika kami-kami ini dikatakan menutup diri,” beber Tran, yang ikut acara peng-ucapan dan penandatangan­an ikrar pertobatan 35 eks Gafatar yang bermukim di Desa Kujan, Kecamatan Bulik, Kamis (17/3/2016).


Di sisi lain, Tran mengaku pengalaman bergabung de-ngan Gafatar tetap berharga, dan tidak akan diulangi lagi. “Jujur, Mas, dulu itu saya tidak tahu apa-apa,” katanya. 


Yang dia tahu dari beberapa pertemuan diskusi saat masih di Pulau Jawa, yang dibicarakan hanya soal ajakan menggarap ladang.


‘’Tidak ada embel-embel makar, organisasi atau apapun itu. Saya hanya diajak ke sini untuk menggarap ladang. Awalnya saya di Sampit selama 6 bulan untuk pelatihan, dan saya ditempatkan di sini,” tuturnya.


Saat ini, ia mengaku harus lebih fokus untuk menghidupi keluarga. ‘’Termasuk akan menyekolahkan dua anak saya yang kecil yang sudah waktunya masuk SD,” tutupnya. (B-10)