BORNEONEWS, Tamiang Layang - Wiani adalah salah satu di antara sekian banyak masyarakat Indonesia yang kehilangan pekerjaan maupun lapangan usaha saat pandemi covid-19 dimulai pada tahun 2020, namun dia tidak mudah berputus asa. Wiani lalu mencoba budidaya lebah kelulut (Trigona sp) yang terus berkembang hingga saat ini.
Sebelum memulai budidaya lebah penghasil madu kelulut, wanita yang tinggal di RT 05 Kelurahan Taniran Kabupaten Barito Timur ini biasa melayani kebutuhan snack untuk perkantoran.
Ketika pandemi covid-19 melanda, pemerintah membuat kebijakan refocusing anggaran untuk penanggulangan pandemi itu serta menghapus anggaran makan-minum pada setiap perangkat daerah. Kebijakan ini berdampak pada usaha kecil Wiani yang membuatnya kehilangan pesanan snack rutin dari kantor-kantor.
Dengan modal awal sebesar Rp1,2 juta, dia kemudian membeli 2 log sarang lebah kelulut dan mencoba memulai budidaya.
"Waktu itu kebetulan saya menderita penyakit tertentu dan bisa pulih dengan mengkonsumsi madu kelulut. Kemudian saya berpikir kenapa gak saya budidayakan sendiri sehingga saya tidak perlu beli madu lagi. Jadi dengan modal Rp1,2 juta saya membeli 2 log sarang kelulut dari peternak kenalan untuk saya coba budidaya sendiri," kata Wiani saat memanen madu di rumahnya, Selasa, 16 Mei 2023.
--page
Sejak itu dia mulai sungguh-sungguh belajar cara budidaya kelulut dari peternak yang lebih berpengalaman. Seiring berjalannya waktu Wiani mulai mengenali perilaku lebah kelulut maupun hama yang membuat mereka dapat meninggalkan sarang.
Kesungguhan wanita berusia 39 tahun ini berbuah manis. Kini dia memiliki 70 log sarang lebah kelulut yang ditempatkan di sekeliling rumahnya. Lebah yang tidak memiliki sengat ini menghasilkan 10 liter madu kelulut baginya setiap bulan.
"Setiap liter saya jual seharga Rp400 ribu," ungkapnya. Umumnya madu kelulut dengan merek Madu Tawunge yang dijual Wiani dikemas dalam botol berukuran 120 mililiter dan dijual dengan harga Rp50 ribu per botol.
Madu kelulut yang dihasilkan terdapat 3 rasa sesuai jenis nektar yang dikonsumsi lebah kelulut. Ada rasa pahit manis, asam manis dan manis.
"Pada bulan tertentu rasa madunya akan berbeda tergantung musim bunga saat itu yang menjadi sumber makanan kelulut," jelas Wiani.
Dia terlihat menikmati usaha barunya ini karena selain mendapatkan manfaat kesehatan dari mengkonsumsi madu hasil budidaya sendiri, Wiani juga tidak repot memikirkan pakan untuk ternak peliharaannya karena lebah kelulut mencari makanan sendiri dari nektar dan pollen yang dihasilkan bunga-bunga tumbuhan di sekitar rumah.
--page
"Saya biasanya hanya perlu memeriksa sarang kelulut itu jangan sampai ada hama yang membuat mereka meninggalkan sarang. Hama kelulut biasanya semut dan ulat," jelasnya.
Meski demikian, seperti umumnya pelaku usaha, Wiani juga terkadang menghadapi kendala pemasaran. Masih ada sebagian kalangan yang menganggap madu yang dijualnya mahal, padahal menurutnya harga tersebut sudah termasuk murah.
"Sekapun kelulut ini tidak diberi pakan tapi tetap ada juga pengeluaran biaya, seperti botol dan stiker untuk kemasan maupun pembasmi hama," jelasnya.
Manisnya budidaya kelulut yang dirasakan Wiani tidak membuat dia pelit ilmu dengan orang lain. Dia pun mempersilahkan siapa saja yang ingin mengenal budidaya kelulut untuk berkunjung ke kediamannya.
"Kalau ada yang berminat dan ingin tahu cara budidaya atau memanen madu kelulut bisa berkunjung ke tempat saya. Bisa juga nanti belajar cara memotong batang pohon yang ada sarang kelulutnya dan cara memecah koloni," pesannya sambil menuangkan hasil panen madu ke dalam botol. (BOLE MALO/J)









