KEBIJAKAN dan strategi pengembangan sektor pariwisata dan pertumbuhan bisnis perhotelan di Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar), belum berjalan simultan. Hubungan mutualisme dua sektor pertumbuhan ekonomi ini masih belum terbangun.
Efek domino ekowisata Taman Nasional Tanjung Puting (TNTP), nyaris tak dirasakan pelaku bisnis perhotelan di Pangkalan Bun. Ketua DPRD Kobar, Triyanto menuturkan, pemerintah daerah melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) semestinya bisa lebih berperan aktif menanggapi isu-isu terkait kepariwisataan.
Termasuk belum terintegrasinya strategi pengembangan pariwisata dan ekspektasi pasar perhotelan. Ini yang dikeluhkan Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kobar dalam rapat dengar pendapat (RDP) Senin (21/3). “Sebenarnya, tidak harus dengan regulasi berbentuk peraturan daerah.
Tetapi bisa dengan cara menjual paket destinasi wisata, yang tak hanya ke Tanjung Puting saja. Tapi dikolaborasikan dengan objek wisata lain. Dan itu peran dinas pariwisata sebagai pembina travel-travel wisata, harus aktif,” ujar Triyanto, Selasa (22/3).
Sebelumnya, General Manager Swiss-Belinn Pangkalan Bun, Ali Alimin mengatakan, besarnya kunjungan wisatawan lokal maupun mancanegara ke Kobar pada 2014 lalu mencapai 13.428 orang. Ini tak berdampak pada jumlah hunian tamu hotel di perkotaan Pangkalan Bun. (RD/B-7)


