PANGKALAN BUN –

BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Cuaca panas yang dirasakan di Indonesia, termasuk Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar), Kalimantan Tengah belakangan ini ternyata dipicu oleh berbagai sebab. Salah satu di antaranya yaitu adanya posisi gerak semu matahari.

Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Kelas III Iskandar Aqil Ihsan, Selasa, 23 Mei 2023 menjelaskan, posisi gerak semu matahari yang di sekitar ekuatorial saat ini juga menyebabkan kondisi panas.

"Saat ini di Kabupaten Kobar masih masuk musim hujan dan menuju peralihan ke musim kemarau. Karena kemarau dimulai pada dasarian ke II dan III bulan Juni serta juli dasarian ke I berdasarkan zona musim  (ZOM) masing-masing," kata Aqil Ihsan.

Aqil Ihsan juga menjelaskan, kondisi suhu muka air laut di perairan wilayah Kalteng saat ini terpantau netral dan diprediksi menghangat hingga bulan September 2023.

"Diprediksi awal musim kemarau 2023 di Wilayah Kalteng diprakirakan terjadi pada bulan Juni dan Juli dasarian II dan III meliputi Kabupaten Kobar, Kotim, Katingan, Pulang Pisau, Kapuas, Gunung Mas, Palangka Raya, Barael dan Bartim," jelas Aqil Ihsan.

--page

Menurut Aqil Ihsan, perbandingan Awal musim kemarau 2023 di wilayah Kalteng pada umumnya maju dan sama dibandingkan dengan kondisi rata-rata.

"Kecuali di wilayah kabupaten Barito Utara bagian selatan dan kabupaten Barito Selatan bagian utara. Sifat hujan pada musim kemarau 2023 di wilayah Kalimantan Tengah pada umunya diprakirakan pada kategori Bawah Normal (BN) - Normal (N)," paparnya. 

Aqil Ihsan melanjutkan, pada periode peralihan musim, perlu diwaspadai potensi cuaca ekstrem seperti panas yang meningkat, kekeringan, dan angin kencang yang dapat terjadi secara tiba-tiba.

"Pemerintah daerah dan masyarakat di daerah rawan kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan dihimbau untuk meningkatkan kewaspadaan pada saat periode puncak musim kemarau," pesannya. 

Dia menambahkan, pada daerah dengan periode musim kemarau yang tiba lebih awal, perlu adanya langkah penyesuaian di sektor pertanian seperti penggunaan teknologi irigasi modern. "Di antaranya adalah konservasi air dan penanaman tanaman yang tahan kekeringan. Untuk itulah, harapannya pihak yang berkepentingan bisa memperbarui informasi cuaca dan iklim melalui berbagai media diseminasi BMKG," demikian Aqil Ihsan menyampaikan. (WAHYU KRIDA/Y)