Suasana damai di Madrasah Aliyah (MA) Termili, Pangkalan Bun, Rabu (23/3/2016) pagi mendadak gaduh. Pasalnya, salah satu siswi kelas 12 berinsial SS, tiba-tiba mengamuk tanpa sebab. 


Teman-teman di sekelilingnya jadi sasaran umpatan dan caci maki. Sesekali ia tertawa cekikikan layaknya anak kecil, kemudian kembali histeris dengan mata melotot. SS rupanya sedang kesurupan.


Saat dievakuasi ke ruang guru, ia kembali marah-marah sambil berteriak menuding area sekolah dijadikan tempat memadu kasih oleh pasangan muda-mudi pada malam hari. SS pun mengungkapkan, jika ia adalah makhluk penunggu pohon bambu belakang sekolah.


“Jangan berpacaran di tempat ini, jijik saya,” tukas SS sembari teriak-teriak.


Lantas, ia kembali meronta, berteriak dan tertawa. Suaranya juga sudah berubah seperti suara anak kecil. Guru-guru pun berupaya menyadarkan SS kembali dengan membacakan Surat Yasin. Namun upaya tersebut tak membuahkan hasil. SS dengan suara anak kecil malah menirukan dan ikut mengaji. 


Dua orang ustaz yang didatangkan kepala sekolah pun tidak mampu menyadarkan SS, hingga akhirnya, oleh orang tuanya, SS dibawa pulang.


Sesampainya di rumah di RT 02 Kelurahan Raja Seberang, Kecamatan Arut Selatan, SS tak kunjug sadar. Bahkan, dua teman sekolah yang ikut mengantarkannya pun mengalami gejala serupa dengan  SS.


Hingga akhirnya, SS dan dua temannya dapat disadarkan oleh salah satu pegawai PDAM dan kakak sepupu SS dari salah satu perguruan olahkanuragan. Sementara dua teman sekolah SS diantar pulang ke rumah mereka masing-masing.


Menurut Kepala Sekolah, Madrasah Aliyah Termili Pangkalan Bun, Acep Syahrudin, kasus kesurupan di sekolahnya sebelumnya menjadi agenda rutin. Bahkan kesurupannya bersifat massal. Para guru pun pernah mengalami gejala kesurupan.


Namun beberapa tahun ini sejak sekolah tersebut ‘dibersihkan’, tidak pernah lagi terjadi kasus kesurupan.


“ Baru ini lagi terjadi, besok siswa yang bersangkutan tidak usah sekolah dulu agar bisa tenangkan pikirannya,” ujar Acep. (KK/B-12)