SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit - Ketua Perhimpunan Orangtua Penyandang Thalasemia Indonesia Cabang Sampit Reni Septia Dewi mengatakan perlu skrining dini untuk memutus mata rantai thalasemia di daerah ini. 

"Skrining perlu untuk mememutus mata rantai thalassemia. Apabila lambat kita melakukan skrining pasien akan bertambah terus," kata Reni. 

Skrining darah sedini mungkin perlu dilakukan kepada masyarakat terutama bagi pranikah baik laki-laki maupun perempuan. Apabila keduanya membawa sifat thalassemia maka harus bersiap anaknya berpotensi menderita penyakit itu. 

Ia berharap penyakit thalassemia terus disosialisasikan kepada masyarakat karena ini belum di kenal. Thalassemia merupakan penyakit langka kelaianan darah genetik yang diturunkan dari ayah dan ibu pembawa pembawa sifat thalasemi.

Secara medis penyakit ini belum dapat disembuhkan. Penanganannya melalui obat dan transfusi darah dilakukan secara berkelanjutan, sehingga membutuhkan biaya yang besar. 

--page

Penderita thalassemia yang ditangani oleh RSUD dr Murjani 56 orang, 5 pasien diantaranya dari Kabupaten Seruyan. Lainnya dari Kotim bahkan hingga pelosok daerah.

"Ada seorang anak dari daerah yang jauh dari Sampit dan kurang mampu. Dia terlambat mendapatkan transfusi hingga limfanya bengkak. Harus rutin perawatannya, Hb nya tidak boleh rendah. Jika Hb 7 atau 8 sudah harus kembali mendapat perawatan," paparnya. 

Sementara itu, Asisten I Setda Kotim Rihel mendukung sosialisasi thalasemia kepada masyarakat. Ia berharap seminar thalasemia dapat digelar untuk masyarakat umum.

Dirinya mengutarakan keprihatinannya atas kisah sebuah keluarga yang memiliki 5 orang anak semuanya mengidap thalasemia.

"Sangat besar beban yang di tanggung apabila sudah terkena thalassemia," demikian Rihel. (DEWI PATMALASARI/H)