TAMIANG LAYANG –

BORNEONEWS, Tamiang Layang - Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika atau BMKG memprakirakan Kabupaten Timur segera memasuki musim kemarau pada pertengahan Juni 2023.

"Awal musim kemarau tahun ini (2023) di Barito Timur diprakirakan terjadi pada dasarian II (10 hari kedua) bulan Juni yang meliputi di Kecamatan Awang, Benua Lima, Dusun Tengah, Dusun Timur, Karusen Janang, Paju Epat, Paku, Patangkep Tutui, Pematang Karau dan Kecamatan Raren Batuah," ungkap Kepala Stasiun Meteorologi Kelas IV Sanggu, Nur Setiawan, Minggu, 28 Mei 2023.

Sedangkan puncak musim kemarau di Barito Timur diprakirakan terjadi pada September. Menghadapi peralihan musim kali ini, Nur Setiawan menyampaikan rekomendasi
agar mewaspadai cuaca ekstrem seperti panas yang meningkat, kekeringan dan angin kencang yang dapat terjadi secara tiba-tiba.

"Pemerintah daerah dan masyarakat di daerah rawan kekeringan serta rawan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan pada saat periode puncak musim kemarau," imbuhnya.

Pada wilayah dengan periode musim kemarau yang tiba lebih awal, lanjut Nur Setiawan, perlu adanya langkah-langkah penyesuaian di sektor pertanian seperti penggunaan teknologi irigasi modern, konservasi air dan penanaman tanaman yang tahan kekeringan.

"Diimbau juga agar masyarakat Barito Timur dan stakeholder terkait selalu memperbaharui informasi cuaca dan iklim melalui berbagai media diseminasi BMKG," pesannya.

--page

Sementara itu, pada apel gelar personel dan sarpras untuk penanggulangan karhutla, Jumat, 26 Mei 2023, Kapolres Barito Timur AKBP Viddy Dasmasela mengingatkan seluruh pihak terkait agar memprioritaskan pencegahan karhutla melalui deteksi dini, monitoring area rawan hotspot dan pemantauan kondisi harian di lapangan.

"Infrastruktur dan monitoring juga harus sampai pada level bawah dengan melibatkan babinsa, bhabinkamtibmas, kepala desa, tokoh agama, serta tokoh masyarakat agar mengedukasi masyarakat secara terus-menerus untuk mencari solusi permanen agar pelaku usaha atau perusahaan dan masyarakat tidak membuka dan mengolah lahannya dengan cara membakar," pesannya. (BOLE MALO/R)