BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) yang diproduksi oleh PT Eksploitasi Energi Indonesia (EEI), di Kumai, Kabupaten Kotawaringin Barat, seharusnya mampu memproduksi daya 10 megawatt (MG) untuk PLN Rayon Pangkalan Bun. Namun saat PT EEI hanya mampu memproduksi 7 MW, dan yang mampu disuplai hanya 5 MW.

Hal itu dijelaskan oleh Manajer PLN Rayon Pangkalan Bun, Purwanto, dalam diskusi bertema Mengurai Krisis Listrik di Kobar, yang digelar oleh Salsa Forum, di Cafe Salsa, Pangkalan Bun, (24/3/2016).

"Ternyata ada pembekuan izin dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) yang berdampak pada bahan bakar. Bahan bakar tidak mendukung," jelasnya.

Itu baru satu masalah yang menyebabkan pasokan listrik di Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar) dan sekitarnya sering byar pet. Repotnya, lanjut Purwanto, PLTU hanya berwenang melaporkan masalahnya kepada manajemen pusat perusahaan. "Kerja samanya dengan PLN Kalselteng," cetusnya.

Selain itu Purwanto mengakui ada hambatan dalam proses perawatan. " PLTU ada masalah saat blackout Januari. Usulan pemeliharaan tahun lalu, tidak diterima karena ada pilkada, Natal, Tahun Baru dan ultah Kobar. Ini menjadikan tertundanya pemeliharaan di PLTU unit satu pendinginnya dan unit dua chain grid," tambahnya.

Sementara, menurutnya, daya yang aman bagi PLN Rayon Pangkalan Bun, 25,6 MW, dengan beban puncak seharusnya 29,7 MW. Itu sudah mengakomodas kebutuhan sektor bisnis. (Raden Ariyo/B-10)