PLN Rayon Pangkalan Bun secara rutin menebang pohon yang mengancam jaringan tegangan menengah (JTM) di beberapa titik. Pasalnya, apabila dibiarkan pepohonan itu berpotensi menyebabkan gangguang jaringan listrik. Namun sampah sisa penebangan pohon ini sering dibiarkan teronggok di pinggir jalan. Sehingga mengganggu pemandangan.
Menurut Kepala Bidang (Kabid) Tata Ruang, Kebersihan dan Pertamanan, Dinas Pekerjaan Umum (PU) Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar) Rawandi, pihaknya mengaku tidak punya pos anggaran untuk mengangkut sisa tebangan pohon yang dilakukan PLN Rayon Pangkalan Bun.
“Anggaran yang ada di bidang kami hanya untuk membiayai kegiatan selama satu tahun dan hanya untuk mengangkut sampah rumah tangga yang setiap harinya harus diangkut sebanyak 173 meter kubik dan apabila kami tambah dengan kegiatan lain tentu saja akan berpengaruh pada anggaran kegiatan selama satu tahun yang sudah tersusun, seperti tenaga dan BBM-nya,” tegas dia.
Menurut Rawandi, pengangkutan sampah pemangkasan pohon yang merupakan kegiatan PLN yang semestinya dikerjakan sampai tuntas hingga membuang sampah sisa tebangan tersebut. Jika Dinas PU juga harus mengangkut sampah sisa tebangan pohon peneduh yang merupakan kegiatan perawatan rutin jaringan PLN, hal itu sudah melenceng dari tugas bidang pertamanan dan kebersihan. “Sebenarnya kami bersedia saja tetapi harus sesuai dengan aturan terutama Perda pengelolaan sampah,” kata Rawandi.
Ditemui terpisah, Kepala Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kobar Fahrizal Fitri mengimbau agar dalam merawat JTM, PLN memperhatikan estetika dan kerindangan pohon saat melakukan pemangkasan. Artinya, pemotongan hanya dilakukan pada bagian-bagian yang dianggap rawan dan berpotensi mengganggu jaringan PLN. “Tidak sertamerta memotong satu hingga dua meter, tetap harus memperhatikan seni dan estetika kerindangannya,” tegas dia.
Menurut Fitri, PLN memang mengajak bersama-sama untuk turun dan melakukan pemotongan pohon serta membebankan biaya angkut kepada BLH. Hal ini yang membuat BLH menjadi serba salah. “Bagaimana bisa mereka yang melakukan perawatan jaringan dan mereka yang menebang, lah kok kami yang disuruh membayar pengangkutan sampahnya,” keluh dia.(KK/B-8)


