Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar) mengalami inflasi sebesar 4,05% pada tahun 2015. Pada tahun 2016 ini, inflasi tetap berada pada kisaran 4,1%. Kenaikan itu patut diwaspadai karena akan berdampak pada daya beli masyarakat.
Bupati Kobar Bambang Purwanto berharap agar segera dibentuk dan diaktifkan tim penegendali inflasi daerah (TPID). Sehingga bisa mengendalikan inflasi di Kobar. Pada tahun 2017 ditargetkan inflasi Kobar mencapai 4,13%.
“Inflasi harus dijaga pada kisaran di bawah 5 persen, karena inflasi pada kisaran ini akan memberi pengaruh yang positif dalam mendorong perekonomian,” kata Bambang kepada Borneonews saat ditemui di ruang kerjanya, Kamis (24/3/2016).
Jika inflasi di atas 10% (hyperinflasi), lanjut dia, bakal menyebabkan gangguan stabilitas ekonomi. Pasalnya, daya beli masyarakat menurun akibat harga-harga melonjak. “Padahal kita mengharapkan daya beli masyarakat meningkat, didorong pendapatan yang meningkat.
Pendapatan per kapita masyarakat merupakan salah satu tolak ukur peningkatan kesejahteraan, menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan dari 39,41 juta per kapita per tahun pada tahun 2013 menjandi sebesar 43,69 juta per kapita per tahun, sedangkan pada tahun 2014 sebesar 3,64 juta per kapita per bulan,” terang dia.
Bambang menjelaskan, dalam struktur ekonomi Kobar, dapat disimpulkan dua hal utama yaitu sektor pertanian, kehutanan dan perikanan, yang memberi kontribusi paling besar mencapai 28,63%. Kemudian sektor lerindustrian pengolahan, yang memberikan kontribusi paling besar kedua,mencapai 25,28%. “
Nah, sektor industri pengolahan ini perlu kita dorong, karena akan memberikan nilai tambah bagi terciptanya lapangan pekerjaan di Kobar,” ujarnya. (CR-1/B-8)


