BORNEONEWS- Palangka raya: Antisipasi bencana kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Kalimantan Tengah (Kalteng) turut dilakukan elemen warga, khususnya masyarakat peduli api. Salah satunya dengan memaksimalkan penyebaran informasi potensi Karhutla lewat aktivitas jurnalisme warga (citizen journalism).Niatan melawan api dengan penyebaran informasi tersebut menjadi poin penting yang dihasilkan dalam kegiatan pelatihan jurnalis warga peduli api, di SwissBell Hotel Danum, Palangka Raya, 22-24 Maret tadi.Pelatihan ini diprakarsai United Nation Development Programme (UNDP) bidang Reduction of Emissions from Deforestation and Forest Degradation Plus (REDD+) yang berpartner dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Republik Indonesia. Dalam pelaksanaannya di Palangka Raya, kegiatan ini juga mendapat dukungan dari Badan Lingkungan Hidup (BLH) Provinsi Kalteng, Dinas Kehutanan Provinsi Kalteng, dan LSM pendamping.Kegiatan diikuti 25 peserta, dari Kabupaten Pulang Pisau, Kabupaten Kapuas, dan Kota Palangka Raya, yang anggota forum Masyarakat Peduli Api Kalteng. Mereka memiliki latar profesi yang berbeda-beda, seperti petani, guru sekolah, aparatur hingga kepala desa, anggota Barisan Pemadam Kebakaran (BPK), anggota Tim Serbu Api (TSA), serta lembaga swadaya masyarakat bidang lingkungan hidup.Nurul Hidayah, Community Engagement Specialist UNDP REDD+ Jakarta selaku pimpinan proyek kegiatan ini, mengatakan, pelatihan jurnalisme warga tersebut bertujuan menggalang kepedulian warga untuk melakukan aksi dalam pencegahan kebakaran lahan dan hutan di Kalteng.Dijelaskannya, pembakaran hutan yang juga kerap dilakukan oknum yang tidak bertanggung jawab, terutama dalam skala besar telah memberikan dampak luar biasa terhadap aspek lingkungan. Dampak-dampak negatif itu, di antaranya, terjadi degradasi kualitas air, mineral, tanah, organisme kehidupan, atmosfer, iklim, dan seluruh proses kehidupan.“Setiap tahun, terutama saat kemarau, Kalteng selalu diselimuti kabut asap akibat pembakaran atau kebakaran lahan dan hutan. Kondisi ini kian memperparah banyaknya perusakan lingkungan dan pengurasan sumber daya alam (SDA). Adapun dampak kepada manusia, banyak warga, terutama anak-anak mengalami Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA),” katanya.Nurul menyebut, salah satu upaya terbaik meminimalisir kabut asap ini adalah mencegah kebakaran lahan dan hutan. Salah satunya, dengan memberi pemahaman kepada warga tentang indikator-indikator Karhutla, serta bekal kemampuan komunikasi yang praktis dan handal untuk memantau dan membuat laporan. Pada gilirannya, laporan warga ini diharapkan mendapat perhatian dan penanganan dari lembaga-lembaga terkait.“Tujuan kegiatan ini, memberdayakan peran serta masyarakat peduli api melalui aktivitas jurnalistik, sehingga tercipta kesepakatan alur pelaporan warga dalam kesiapsiagaan bahaya kebakaran lahan dan hutan,” terangnya.Dijelaskannya pula, UNDP REDD+ adalah sebuah project yang mendukung Kementrian Lingkungan Hidup (KLHK) terkait mekanisme pengurangan emisi akibat deforestasi dan pengrusakan hutan.Kegiatan ini dibuka Mursyid Marsono, Kepala BLH Provinsi Kalteng di hari pertama. Hadir memberikan paparan di kegiatan itu Inung Nurhayati Minto, Kepala Seksi Pengembangan Kanal Komunikasi KLHK Pusat Jakarta.Paparan lain disampaikan Alfiatul Laili dari komunitas “Mitra 01” Kalteng tentang kanal informasi berbasis pesan singkat (SMS) warga terkait kondisi lingkungan hidup di Kalteng untuk kemudian ditindaklanjuti SKPD terkait.Paparan terakhir disampaikan Matius Hoshang, mewakili Kepala BLH Provinsi Kalteng, sekaligus menutup kegiatan ini.Adapun materi pelatihan jurnalistik disampaikan oleh Saripudin, Staf Redaktur SKH Palangka Post, dan Joni Prihanto, Redaktur Cetak dan Online Harian Kalteng Pos. Secara bergantian keduanya menyampaikan dasar-dasar jurnalistik, unsur-unsur berita (5W+1H), foto jurnalistik, tata cara penulisan berita versi media massa cetak, portal (website), dan laporan dalam format pesan singkat (SMS). “Pelatihan teknik pembuatan berita ini sangat bermanfaat bagi kami, terutama sebagai bekal pelaporan peristiwa kebakaran hutan dan lahan nanti, agar bisa ditangani secepatnya. Sehingga, tidak lagi menyebabkan munculnya kabut asap,” kata Leriadi, peserta asal Kecamatan Timpah, Kabupaten Kapuas yang sehari-hari berprofesi sebagai guru Sekolah Dasar.Hal senada diungkapkan Unjung, peserta asal Desa Tanjung Taruna, Kecamatan Jabiren Raya, Kabupaten Pulang Pisau. Pria yang menjabat sebagai Sekretaris Desa Tanjung Taruna itu mengatakan, tak hanya dalam penanggulangan Karhutla, pelajaran teknik penulisan berita ini juga dia rasakan bermanfaat untuk menunjang bidang tugasnya di kesekretariatan desa. (SAR/*)
Jurnalis Warga Disiapkan Untuk Antisipasi Bencana Kabut Asap
Redaksi
Bagikan:
Komentar0
Jadilah yang pertama membagikan
Bagikan:

Berita Terkait
Tentara Yaman Lumpuhkan Lebih dari 300 Petempur Houthi
Kebakaran Terjadi di Masjid Al-Muhajirin Cempaga Kotim
Kebakaran di Jalan Pahlawan Marabahan, Api Membesar Dekat Sekolah
Pohon Tumbang dan Bangunan Rusak Diterjang Angin Kencang di Banjarbaru
Hujan Lebat Guyur Banjarbaru dan Martapura
Penipu Galang Dana Karhutla Raup Rp8 Juta Dibekuk
Komentar (0)
Memuat komentar…







