MELIHAT kondisi kewilayahan, setidaknya terdapat dua kecamatan yang dinilai rawan terhadap potensi kebakaran lahan dan hutan (karlahut) di kabupaten, yakni Kecamatan Pematang Karau dan Kecamatan Paku.
Menurut Bupati Bartim Ampera AY Mebas, dua kecamatan tersebut memiliki lahan gambut. Untuk itulah penanganan karlahut dititikberatkan pada wilayah dimaksud. Pengawasan dikedepankan dengan melibatkan seluruh elemen yang ada di tingkat kecamatan, kelurahan hingga desa.
“Namun demikian, pengawasan menyeluruh terhadap kecamatan lain tetap digiatkan. Hal ini karena karlahut merupakan kondisi yang berdampak negatif terhadap kehidupan masyarakat,” kata Ampera di sela kegiatan Siaga Karlahut, akhir pekan tadi.
Berkaca 2015 lalu, jelas Ampera, karlahut yang terjadi meninggalkan jejak kerusakan yang besar berupa kabut asap dalam jumlah besar yang berbahaya. Bahkan kejadian pada saat itu, kebakaran melebihi krisis kabut asap pada tahun 2007 lalu.
Untuk itulah, penanganan karlahut kedepan membutuhkan kesiapan bersama. Langkah siaga perlu dikedepankan untuk mencegah terulangnya kejadian kebakaran di bumi berjuluk gumi jari janang kalalawah.
Ampera mengajak penanganan karlahut lebih ditekankan pada partisipasi aktif seluruh elemen pembangunan. Langkah penanggulangan hendaknya difokuskan pada sikap pencegahan yang terencana, menyeluruh, terpadu dan berkelanjutan.
“Libatkan seluruh personil dan peran masyarakat. Dengan berbagai langkah yang dilakukan untuk mengantisipasi terjadinya karlahut di Barito Timur, Pemerintah berharap kejadian yang telah lalu tidak terulang,” harapnya. (Tbs/B-5)


